Mereka sama-sama menunjukkan penghormatan terhadap seseorang atau sesuatu. Yang membedakan adalah cara mereka melakukannya.
Dia khawatir bahwa penamaan kelompok masyarakat yang memiliki kepercayaan dan keyakinan tertentu malah membuat situasi menjadi tidak menyenangkan.
Pada masa sekarang, "kesopanan dalam beragama" lebih mendapat perhatian. Sekarang, praktik keagamaan lebih memprioritaskan aspek luar atau ritual, bukan makna dan substansi yang dalam.
Ia mengatakan bahwa hal tersebut "hanya terkait dengan politik kekuasaan" dan "pengelolaannya hanya berdasarkan aspek dominasi".
Dia yakin bahwa hal itu yang menyebabkan masyarakat cenderung percaya pada hal-hal yang aneh–mempercayai hal-hal yang gaib seperti gua bisa tembus ke Makkah dan meminta berkah dari tokoh-tokoh yang 'dimuliakan'. Sebab "tempat ibadah sudah tidak bisa dipercaya lagi".
"Masyarakat yang miskin, yang tidak bisa menjangkau ibadah haji yang begitu mahal, mengalami kesulitan, dan pada beberapa orang mengadu kepada hal-hal yang dianggap mistis tersebut," ujar dia.
Ini bisa menjadi refleksi besar bahwa agama-agama dalam konteks formalitas dan lembaga itu jangan-jangan melakukan pendekatan sosial-kebudayaan yang salah kepada masyarakat.
Selalu kebanjiran pengunjung
Meskipun menimbulkan perdebatan, Gua Safarwadi terus dikunjungi banyak orang.
Aep, penjaga pintu masuk gua, menunjukkan catatan jumlah pengunjung yang datang ke gua setiap hari.
Setiap hari, gua ini menerima lebih dari 500 pengunjung. Di hari-hari tertentu, Aep mengaku bahwa jumlah pengunjung yang datang bahkan lebih dari 1.000 orang.
Editor : Pimred Laksamana.id
