Dia memilih untuk memfokuskan perhatiannya pada materi yang paling umum muncul dalam ujian, daripada harus mempelajari semua materi yang luas dan menghabiskan waktu yang lama.
"Sebenarnya yang membuat aku diterima adalah karena aku memiliki pengetahuan yang memadai tentang materi yang sering muncul di ujian. Misalnya, di geografi, aku pernah berlatih soal tentang batuan, tanah, dan air yang sering muncul. Sementara di sosiologi, aku telah memahami topik-topik yang paling umum muncul. Jadi, aku benar-benar memfokuskan diri pada bagian yang paling sering diujikan," jelas Natasha.
Natasha mengalami perubahan ketika ia menyadari bahwa belajar bukanlah suatu beban, melainkan proses yang menyenangkan. Setelah berjuang dengan gigih, akhirnya Natasha berhasil diterima di Fakultas Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Baca juga:
Masyarakat berhak mendapatkan kebijakan yang baik
Natasha menjelaskan alasan mengapa ia tertarik pada bidang kebijakan publik karena ia peduli akan kebutuhan masyarakat. Ia juga merasa yakin untuk memilih bidang tersebut karena memiliki integritas yang tinggi. Bahkan, Natasha tidak melakukan hal yang tidak adil untuk mencapai nilai yang baik di sekolah.
Saya tahu bahwa saya tidaklah istimewa, saya bukanlah keluarga pejabat atau jenderal, tapi saya merasa memiliki kepedulian untuk masyarakat luas. Selain itu, hal yang sederhana seperti mengutip pekerjaan orang lain, saya tidak pernah melakukannya. Sejak sekolah menengah pertama, karena teman-teman saya waktu itu pintar-pintar, jadi saya juga terdorong untuk belajar sendiri.
Natasha merasa bahwa dirinya telah memiliki fondasi yang cukup untuk memahami kebijakan publik: kepedulian. Ia yakin bahwa dengan berada di lingkungan yang mendorongnya untuk memahami lebih dalam tentang politik dan kebijakan publik, ia bisa berkontribusi secara nyata.
Dia menyadari bahwa dunia politik dan kebijakan publik jauh dari ideal, tetapi menurutnya, di sana lah tantangannya terletak. Dia percaya bahwa memahami semua kekurangan dalam sistem adalah langkah awal untuk mencari solusi yang lebih baik.
"Justru kita harus mengetahui apa saja yang tidak tepat, sehingga kita dapat menemukan solusi yang tepat," lanjutnya.
Baca juga:
Editor : Pimred Laksamana.id
