Gagal menerima tes masuk hingga tiga kali
Natasha menghadapi kesulitan untuk menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Setelah tidak lulus pada tahun 2021, ia memutuskan untuk mengambil tahun libur, sebuah keputusan yang disokong oleh teman-temannya, terutama dari lingkungan sekolah menengah.
“Teman-teman SMA sih khususnya mendukung pilihan saya untuk melanjutkan gap year,” ujarnya.
Pada tahun 2021, Natasha memang lolos seleksi untuk jalur undangan, yang pada saat itu dikenal sebagai Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan sekarang dikenal sebagai Seleksi Nasional Berbasis Komputer (SNBP). Dengan keyakinan yang besar, ia memilih Fakultas Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) sebagai pilihan utama. Namun, keputusannya ini mendapat perlawanan dari guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolahnya.
“SMA aku itu tidak memiliki reputasi yang baik, tidak ada yang pernah lolos ke UI melalui jalur undangan. Jadi, pilih UI itu seperti bunuh diri,” kenangnya.
Meskipun demikian, Natasha tetap memegang teguh pilihan itu. Ia menyadari bahwa terdapat universitas lain dengan program studi yang sama yang mungkin dapat menerima dia, tetapi ada konsekuensi yang perlu dipertimbangkan. Jika ia diterima di universitas lain lalu menolak tawaran tersebut karena masih ingin mencoba UI, kemungkinan besar sekolahnya akan dimasukkan dalam daftar hitam.
"Aku tidak ingin menutup peluang adik-adik kelas jika aku sendiri menolak universitas lain," katanya.
Sayangnya, hasil seleksi tidak berpihak kepadanya. Ia tidak berhasil masuk ke UI baik untuk jurusan Hukum maupun Politik sebagai pilihan utama. Bahkan di SIMAK UI, Natasha mencoba mengambil berbagai jurusan, termasuk Hukum dan Politik, tetapi ia tetap tidak berhasil.
Baca juga:
Tapi bukannya menyerah, Natasha malah semakin yakin dengan keputusannya. Baginya, ada satu tujuan utama, yaitu menjadi mahasiswa UI. Baginya, memilih universitas lain terasa seperti melanggengkan kekecewaan dan menghambat ambisinya sendiri.
"Aku takut kalau aku memilih tempat lain, aku akan menyesal seumur hidup dan terus membandingkan diri dengan lulusan UI. Jadi seperti itu sudahlah, 'go big or go home' saat itu aku pikirnya." ujarnya.
Editor : Pimred Laksamana.id
