Scroll untuk baca artikel

3 Fakta Penyebab PT Sritex Pailit hingga PHK Ribuan Karyawan,Puncaknya saat Pandemi Covid-19

3 Fakta Penyebab PT Sritex Pailit hingga PHK Ribuan Karyawan,Puncaknya saat Pandemi Covid-19
3 Fakta Penyebab PT Sritex Pailit hingga PHK Ribuan Karyawan,Puncaknya saat Pandemi Covid-19

Bukan hanya perusahaan induk, anak perusahaan Sritez yaitu PT Senang Kharisma Textil (SKT) juga menerima gugatan PKPU dari PT Bank QNB Indonesia pada tanggal 20 April 2021 dan PT Nutek Kawan Mas pada tanggal 10 Mei 2021.

Perubahan struktural dilakukan dengan melakukan restrukturisasi dua anak perusahaan, yaitu PT Senang Kharisma Textil (SKT) dan PT Rayon Utama Makmur (RUM).

Sritex juga terus menjalankan komitmen membayar utangnya. Dalam gugatan tersebut, Sritex sebagai debitur berjanji bersikap kooperatif dan terbuka dengan para pihak yang berkepentingan, termasuk bank, pemegang saham, obligasi, vendor, atau supplier.

Sritex berjanji untuk tetap menjalankan operasionalnya. Hal ini karena perusahaan ini menjadi tempat kerja untuk puluhan ribu karyawan dan memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah sekitarnya.

Terpaksa PHK Ribuan Karyawan

Kebangkrutan Sritex menandai akhir dari perjalanan panjang perusahaan tekstil yang pernah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Dampak terbesar dari keputusan pailit ini adalah kehilangan lapangan kerja bagi lebih dari 10.000 pekerja yang sebelumnya bergantung pada perusahaan tersebut sebagai sumber penghidupan mereka.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal mulai terjadi pada bulan Januari 2025. Ini telah menyebabkan ribuan keluarga menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pada tanggal 26 Februari 2025, terdapat gelombang PHK besar-besaran di beberapa anak perusahaan Sritex.

Selain itu, kebangkrutan Sritex juga menimbulkan dampak buruk bagi dunia bisnis dan industri manufaktur di Indonesia, yang kehilangan salah satu pemain utama dalam industri tekstil.

Industri tekstil, yang dulunya merupakan salah satu sektor vital ekonomi Indonesia, harus menghadapi kenyataan bahwa persaingan yang ketat dan krisis global telah menyebabkan salah satu perusahaan terbesar di sektor ini mengalami kegagalan.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Pengobatan
Terkini