Sebab arena pendidikan sebelumnya tidak sangat percaya tentang beberapa penemuan awal mengenai makhluk prasejarah tersebut. Sebagai contoh, ditemukan sisa-sisa fosil manusia di Gua Engis, Belgia (1830). Kemudian ada juga fosil dari Gibraltar di bagian selatan Spanyol (1848), dan fosil lainnya di daerah Neander, Jerman (1856) — semula mereka berpikir bahwa hal itu hanyalah variasi aneh dari jenis manusia modern, namun baru-baru ini dalam abad ke-20 barulah dipastikan sebagai fosil spesies Homo neanderthalensis.
Pulaunya Jawa juga dengan posisinya di bawah kendali Hindia Belanda pada awal abad ke-19 kurang familiar bagi masyarakat umum. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ada komentar seperti ini:
Bengawan Solo itu seperti apa? Apakah fosil tersebut berasal dari seekor individu saja? Jika kelak disana ditemukan lagi fosil tulang paha sebelah kiri, bukan jadi makhluk dengan dua tungkai kanan? Dan bagaimana jika di Trinil suatu saat menemukan tengkorak lainnya, apakah artinya makhluk ini memiliki kepala ganda? Meski penemuannya otentik, mungkin hanya tersisa fosil monyet besar yang konon bernama 'wau-wau'. Hylobates giganteus Ini semuanya hanyalah tebak-tebakan karya Dubois.
Penerbitan hasil penelitian Dubois ternyata memicu perdebatan yang terus-menerus. Apakah Pithecanthropus erectus Itu hanyalah sebuah monyet besar, atau memang sisa keturunan dari leluhur manusia modern?
Perihal tersebut membuat Dubois terus resah hingga akhir hayatnya. Ia berubah menjadi penyelidik ulung; fosil itu bagai benda kesayangannya sendiri, dan fragmen fosil tersebut senantiasa disimpan secara hati-hati.
Dubois sering kali merasakan ketakutan, dengan tekanan yang terus-menerus dalam hidupnya serta menghindari diskusi akademis. Ia berubah menjadi seorang peneliti unik, sementara keyakinannya semakin menurun. Terjebak dalam perasaan kekalahan dan pengampunan diri sendiri.
Sebenarnya, rasa penasaran masyarakat sangat tinggi, seperti yang ditunjukkan hingga tahun 1930, diterbitkan kurang lebih 500 buku sains, secara spesifik mendiskusiakan tentang "Manusia Jawa" di wilayah Bengawan Solo – temuan Dubois.
Namun mungkin saat ini Dubois telah mereda dan bahagia, karena di pemakamannya ditambah dekorasi salib dari tulang paha dan tengkorak Pithecanthropus, dan kini sedang dibangun sebuah monumen penghormatan. Pithecanthropus erectus Yang dulunya hanya diartikan sebagai tulang tengkorak makhluk yang bodoh, mikrokefalus atau hasil campuran antara "orang asli" dan kera, sekarang telah dipromosikan menjadi Homo erectus atau dalam bahasa populer disebut "Manusia Berjalan Tegak", yaitu "Manusia Jawa".
Sayangnya, Dubois sedikit terlalu dini dalam melampaui zamannya. Ketika ia menyatakan penemuan "Manusia Jawa" di daerah Sungai BengawanSolo tersebut. the missing link Teori Darwin, masih terlalu dini untuk diterima oleh masyarakat global.
Ilmu pengetahuanpun masih belum siap pada masa itu, ketika teori "manusia berasal dari kera" baru mulai berkembang perlahan.
Editor : Pimred Laksamana.id