Seperti yang dikatakan oleh J.L. Weyers dari Sumatra, disampaikan kepada E. Delvaux - seorang member dari Ikatan Ahli Antropologi Brussels.
Selanjutnya Weyers menulis lagi:
Painan, 26 Maret 1889... Kegiatan penggalian yang dipimpin oleh Mr. Dubois, seorang ahli dari Belanda yang pernah mengajar di Universitas Leiden... telah menemukan banyak fosil tulang serta bermacam-maca hewan, termasuk tengkorak gajah besar Proboscidea… orang-orang yang memiliki minat dalam bidang ilmu pengetahuan pasti akan bergembira mendengar tentang temuan-temuan ini...
Berdasarkan dokumen-dokumen tersebut, Delvaux mengumumkan kepada Ikatan Ahli Antropologi Brussels: "Kita dapat menarik kesimpulan bahwa pulau-pulau di sebelah barat dari Kepulauan Indonesia adalah sisa-sisa daratan besar yang dahulu berfungsi sebagai rute komunikasi langsung antara Benua Asia."
Dalam serangkaian tulisan Dubois yang lain setelah ia ditugaskan menjadi dokter militernya, terlihat ada lima alasan utama mengenai penggunaan wilayah Indonesia (saat itu disebut Hindia Belanda) sebagai tempat pencarian fosil dan jejak kehidupan leluhur manusia.
Alasannya yang pertama, Dubois merujuk pada Darwin seperti dikutipnya. The Descent of Man Yang mengatakan "leluhur kita," manusia sebenarnya harus tinggal di wilayah tropis, karena nenek moyang kita telah kehilangan rambut mereka saat evolusi berlangsung. Pada masa Pleistocene yang memiliki iklim sedang, temperatur udara tentu saja lebih rendah daripada periode modern ini.
Orangutan, sebagaimana hewan mamalia yang sangat dekat dengan manusia, pada masa lalu hanya ditemukan di wilayah-wilayah tropis saja. Menurut teori evolusi tentang asal-usul manusia, kemunculan nenek moyang kita ternyata dibatasi dan hanya ada di beberapa tempat spesifik.
Gorila dan simpanse hanya bertahan di benua Afrika. Sementara orangutan, gibbon, wau-wau, serta siamang semuanya memilih habitat di wilayah Southeast Asia. Bukti dari penemuan fosil hewan primata ini menjadi dasar argumentasi mereka berdua.
Darwin berpendapat bahwa Afrika adalah lokasi yang paling logis untuk asal-usul manusia, sebab manusia paling "dekat" ke gorila dan siamang. Sementara itu, Lyell dan Wallace menyatakan bahwa wilayah Hindia Timur, habitat bagi orangutan dan hiru-hirek, mungkin juga merupakan daerah peninggalan nenek moyang manusia.
Alasan keduatiga adalah, di Hindia Belanda diperkirakan pernah ada makhluk anthropoid purba tersebut.
Editor : Pimred Laksamana.id