Scroll untuk baca artikel

Pemuda Tangguh dan Ngambek: Kisah Di balik Penemuannya Pithecanthropus erectus di Trinil

Pemuda Tangguh dan Ngambek: Kisah Di balik Penemuannya Pithecanthropus erectus di Trinil
Pemuda Tangguh dan Ngambek: Kisah Di balik Penemuannya Pithecanthropus erectus di Trinil

Argument keempat berdasarkan ditemukannya populasi gibbon di "Hindia Belakang" dan "Archipel Indomaleise". Menurut Dubois, terdapat ikatan yang kuat antara manusia dengan gibbon di Hindia Belanda; meskipun demikian, ia tidak menjelaskan alasannya secara spesifik.

Terakhir, sebagai alasan kelima, terdapat jumlah besar gua di Hindia Belandanya. Bukankah para peneliti fosil manusia prasejarah sering mencari lokasi dalam gua-gua tersebut? Mengingat ada banyak sekali gua di sana, tidak mengherankan jika nanti akan menemukan fosil atau jejak kehidupan manusia purba.

Tentu saja, ketika mencoba mengumpulkan fosil manusia di gua-gua sejak awal kariernya di Sumatra, Dubois pernah merasakan kekecewaan karena yang ditemukannya hanya fosil orangutan, gibbon, badak, tapir, gajah, babi hutan, kijang, dan sapi.

Ia sangat hancur hati dan sempat menyusun sebuah surat untuk karyawannya tersebut.

Sungguh sangat mengejutkan bagi saya... Sering kali saya harus bertahan beberapa malam di dalam hutan... Rasanya seperti batasan kesabaran telah tercapai. Ini adalah tiga kalinya saya terserang demam parah... Dari total 50 tenaga kerja paksa yang ditempatkan untuk membantu, banyak dari mereka lari atau dipindahkan, bahkan ada juga yang meninggal dunia... Sekarang saya hanya bisa melanjutkan proyek bersama 12-15 orang saja… Hutan ini begitu padat tanpa adanya jalanan... Pegunungan karstnya curam... Sulit sekali mencari sumber air....

Setelah menyelesaikan tugasnya di Sumatera, Dubois berpindah ke Jawa dan memperoleh izin dari atasan untuk mencari fosil manusia prasejarah di wilayah tersebut. Tepat pada tahun 1889, dia berhasil menggali sebuah fosil tengkorak di daerah Wajak yang terletak tidak jauh dari Tulungagung, Jawa Timur.

Dubois langsung menuju ke wilayah tersebut, di mana penghuninya kerap menjumpai remains tulang-belulang. Ia pun segera memulai proses penggalian dan akhirnya berhasil menemukan berbagai fosil pada bulan November tahun 1890, termasuk sebuah rahang bawah yang diduga terkait dengan Pithecanthropus.

Di Trinil antara tahun 1891 hingga 1893, Dubois melakukan penggalian di area pinggir sungai yang telah dipengaruhi oleh arus Bengawan Solo. Pada bulan Agustus tahun 1891, ia berhasil menemukan sebatang geraham (molar), awalnya diyakini sebagai fosil gusi kera utan. Selanjutnya, ditemukan pula sebuah kerangka tengkorak.

Tahun selanjutnya, Dubois menemukan beberapa fragmen fosil tambahan, termasuk satu tulang paha yang memiliki tanda-tanda telah dipengaruhi oleh suatu jenis tumor. Berdasarkan penemuannya tersebut, Dubois langsung menyatakan bahwa ia sudah berhasil menemukan hal ini. missing link , mengungkap jejak Pithecanthropus erectus atau kera-manusia yang bergerak dengan postur tubuh tegap.

Penemuan Dubois tiba-tiba mendapat perhatian di kalangan ilmuwan global.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini