belum lagi hujatan keras terhadap darwin yang dikenal sebagai "sang bapak evolusi prasejarah inggris," timbul thomas h. huxley (1825-1895) yang mempromosikan teori tersebut melalui tulisan-tulisannya di buku Man's Place in Nature (1863) yang menjelaskan pertumbuhan manusia secara bertahap, sambil mengevaluasi struktur anatomi tubuh manusia bersamaan dengan kera, terutama simpanse dan gorila.
Huxley mengamati bahwa hubungan antara kera besar dan manusia sangat erat. Proses evolusinya juga sangat serupa dan berada di bawah undang-undang evolusi yang sama.
Darwin menerbitkan lagi The Descent of Man (1871) yang pertama kali menamakan spesies tunggal tersebut Homo sapiens Tidak heran, buku Huxley dan Darwin ditandai dengan huruf miring dan sering diolok-olok oleh masyarakat luas karena interpretasi publik bahwa kedua teori evolusi tersebut secara jelas menyebutkan bahwa manusia merupakan keturunan langsung dari kera besar berukuran besar yang tidak memiliki ekor dan masih hidup hingga saat ini.
Jadi, pada waktu itu, siapa pun yang mempercayai teori Darwin dan Huxley secara otomatis dianggap menyetujui bahwa leluhurnya berasal dari simpanse, gorila, atau orangutan.
Diskusi saintifik tentang asal-usul manusia malah membangkitkan minat sejumlah pakar. Ini termasuk para ahli yang bertugas seperti pencari fosil dan petunjuk ilmiah lainnya, bolak-balik ke lapangan untuk mengeksplorasi dan mencengkerami tanah serta gua-gua tersebut.
Pencarian ilmu tentang manusia dimulai, dengan penelitian yang menjadikan diri kita sendiri sebagai subjek dan asal dari berbagai pertanyaan. Jika dibandingkan dengan binatang, manusia lah yang mempunyai karakteristik paling mencolok diantara bentuk kehidupan lainnya.
Kecerdasan manusia, kapabilitas mereka dalam berkomunikasi dan menggunakan bahasa, kecenderungan untuk menjalani gaya hidup yang sosial, serta ketergantungan pada perangkat penunjang, semua ini berkembang seiring waktu. Sementara itu, tingkah laku dasar atau instingtif mulai mengecil secara proporsional.
Struktur badan manusia yang istimewa ini dikenal karena dapat berdiri tegak menggunakan kedua kakinya serta memiliki sepasang tangan yang sangat lihai dalam menggenggam dan melaksanakan gerakan dengan ketelitian. Ditambah lagi, ukuran kepala yang cukup besar menandai ruang otak yang luas pada manusia.
Ilmu ini kemudian maju pesat dan mendapat banyak penggemar, hingga akhirnya tumbuh menjadi bidang studi bernama paleoantropologi didukung oleh berbagai disiplin ilmu terkait. Masalah utamanya kini tidak lagi tentang evolusi dari simpanse, gorila, atau orangutan menuju ke bentuk manusia.
Akan tetapi, muncullah pertanyaan tentang kapan proses tersebut berawal dan sejak kapan terjadilah pemisahan antara leluhur manusia dengan binatang yang dikenal sebagai kera raksasa itu. Oleh karena itu, pertanyaan ini muncul lantaran beberapa ahli sudah semakin percaya bahwa manusia benar-benar berasal dari jenis primata yang serupa dengan kera besar tersebut.
Editor : Pimred Laksamana.id