Scroll untuk baca artikel

Pemuda Tangguh dan Ngambek: Kisah Di balik Penemuannya Pithecanthropus erectus di Trinil

Pemuda Tangguh dan Ngambek: Kisah Di balik Penemuannya Pithecanthropus erectus di Trinil
Pemuda Tangguh dan Ngambek: Kisah Di balik Penemuannya Pithecanthropus erectus di Trinil

Hingga akhirnya lahirlah Ernst Heinrich Haeckel dari Jerman, melalui karyanya berupa buku tersebut, Sejarah Pembentukan Alam Semesta Tahun 1874 yang sebenarnya mendukung teori Darwin. Haeckel mengemukakan ide tersebut dengan merancang "pohon filogeni" untuk spesies manusia.

Menurut pendapatnya, kehidupan manusia bermula dengan wujud yang sederhana dan primitif. Homo primigenius , tempat di mana sebelumnya terdapat makhluk serupa manusia tetapi memiliki bentuk fisik seperti kera besar dan tidak dapat berbicara.

Mahluk yang dikenal sebagai "rantai mata yang lenyap" ( the missing link ) Ini, dalam Bahasa Latin dikenal sebagai Pithecanthropus alalus Atau "entitas antara manusia dan simpanse yang tuli".

Berdasarkan teorinya, mahluk buta itu bisa ditemukan di zona tropis tempat tinggalnya juga simpanse raksasa. anthropoidea ("menyerupai manusia") seperti simpanse, gorila, dan orangutan.

Tepat pada saat yang sama, Alfred Russel Wallace (1823-1913), yang pada tahun 1858 mengirimkan makalahnya bersama Darwin ke hadapan forum Linnaeus Society, juga mempublikasikan sebuah karya terkenal tersebut. Malay Archipelago (1869) dan Tentang Sebaran Geografis Hewan .

Dia pun memaparkan bukti langsung dari temuan penelitiannya di hutan-hutan tropis seperti Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Selanjutnya, dia melaporkan keberadaan simpanse raksasa, contohnya orangutan yang berasal dari Kalimantan.

Dampak yang timbul, di pentas ilmiah pada akhir abad ke-19 tersebut, gagasan Darwin tentang evolusi yang memang tak pernah menyatakan "manusia berasal dari monyet" pun jadi sasarannya, entah para pendukung atau penentangan — bahkan sampai kutukan dan sindiran.

Sejak zaman abad ke-18, Linnaeus telah mengembangkan sistem klasifikasi untuk manusia yang termasuk dalam cabang ordo primata (Latin: prima Atau urutan pertama, puncak teratas pada 'pohon keluarga' kerajaan hewan (regnum animalia), sejajar dengan kera dan monyet.

Aliran ilmu pengetahuan tersebut ternyata memicu minat seorang muda Belanda bernama Eugene Dubois (1858–1940). Ia terinspirasi dengan gagasan sederhana berikut: "Setiap monyet, terutama monyet anthropoid Merupakan penduduk hutan tropis. Tokoh utama ini bertubuh berbulu dan memiliki batasan, tentunya mencari area dengan suhu hangat. Baik rela maupun tidak rela, aku harus mengunjungi wilayah tropis jika ingin menemukan fosil, guna memperkuat teori tentang keberadaan seorang hominid bersifat simpanse tapi dapat berdiri tegap menggunakan kedua kakinya.

Pria muda tersebut, Marie Eugene Francois Thomas Dubois, lahir di Eijsden, Limburg-Belanda pada tanggal 28 Januari 1858. Ia adalah putra dari Jean Joseph Balthasar Dubois dan Maria Catharina Floriberta Agnes Roebruck.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini