Menganggap bahwa makin tinggi tingkat berat badan seseorang, makin rendah harapan hidupnya. Pandangan ini salah dan dapat diklasifikasikan sebagai prasangka negatif, yaitu sikap tidak suka yang didasarkan pada generalisasi yang tidak tepat dan tidak fleksibel.
Pada penelitian ini, ditemukan bahwa pasien dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) di bawah 23,1—sesuai standar WHO, dianggap masih dalam kategori berat badan normal—mengalami risiko meninggal lebih tinggi daripada mereka dengan BMI 35,3. Penemuan ini mengejutkan karena menunjukkan bahwa pandangan umum bahwa BMI rendah selalu berhubungan dengan kesehatan yang lebih baik sebenarnya salah.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa BMI yang terlalu rendah dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan seperti kurang gizi, penyakit kronis, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Di sisi lain, BMI sedikit lebih tinggi dapat memberikan perlindungan terhadap kondisi kesehatan tertentu seperti osteoporosis atau infeksi.
Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa indeks massa tubuh (BMI) tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya kriteria untuk mengevaluasi kesehatan seseorang. Hal ini juga telah diakui oleh banyak ahli. Bahkan, Asosiasi Dokter Amerika (AMA) menyarankan agar dokter tidak hanya mengandalkan BMI dalam mendiagnosis obesitas dan kesehatan pasien.
“Ada banyak kekhawatiran tentang cara BMI digunakan untuk mengukur berat lemak dan mendiagnosis obesitas, namun beberapa dokter melihatnya sebagai ukuran yang bermanfaat dalam beberapa skenario tertentu,” kata mantan Presiden AMA, Jack Resneck, Jr. MD.
AMA menekankan kebutuhan menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh, yang mencakup pemeriksaan komposisi tubuh, distribusi lemak, dan faktor-faktor kesehatan lainnya seperti tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah.
(DEXA).
Untuk mengetahui komposisi tubuh. Penelitian tersebut mencakup sampel dari berbagai kelompok usia dan jenis kelamin, dengan pengukuran yang beragam, termasuk tinggi badan, berat badan, BMI, persentase lemak tubuh, dan komposisi tubuh.
Subjek penelitian mengenakan pakaian yang sesuai ukurannya dan kemudian dipindai oleh Fit3D ProScanner dalam waktu 10 menit. Proses pemindaian memakan waktu sekitar 45 detik dan menghasilkan gambaran bentuk tubuh yang akurat.
Editor : Pimred Laksamana.id
