Tapi, data yang digunakan hanyalah dari sekelompok kecil saja sehingga kurang mencerminkan populasi global yang sangat beragam.
Beberapa ilmuwan dan penelitian selanjutnya menyatakan bahwa tidak ada kaitan antara berat badan dan kesehatan yang sebenarnya. Oleh karena itu, keakuratan Indeks Massa Tubuh (BMI) kemudian dipertanyakan.
Menurutnya, dalam menilai kesehatan seseorang, penggunaan standar BMI dapat membingungkan. Sementara itu, ia menekankan pentingnya memahami konteks sosial di balik kategori-kategori yang ditetapkan, seperti stereotip masyarakat terhadap orang gemuk dan pengaruh industri diet.
Russel menunjukkan bahwa pasien dengan berat badan berlebih sering mengalami diskriminasi sosial dan komentar negatif tentang penampilannya. Hal ini dapat menyebabkan rasa malu dan kecemasan, bahkan mengurangi motivasi untuk mengunjungi fasilitas kesehatan. Sebaliknya, lebih baik jika seseorang dilihat dari perspektif yang lebih luas daripada langsung melabelinya dengan kategori BMI.
Kedua, BMI tidak bisa membedakan antara massa lemak dan massa otot. Seorang atlet yang sangat kuat mungkin memiliki BMI tinggi karena massa ototnya yang banyak, sehingga dikelompokkan sebagai obesitas, padahal kondisi fisiknya sebenarnya sangat baik. Sementara itu, seseorang dengan BMI normal mungkin memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi dan berisiko mengalami masalah kesehatan.
Ketiga, BMI tidak memperhitungkan distribusi lemak di dalam tubuh. Lemak yang terakumulasi di sekitar perut (lemak visceral) lebih berbahaya bagi kesehatan daripada di bagian tubuh lain, seperti pinggul atau paha.
Artinya, dua orang dengan tingkat indeks massa tubuh yang sama bisa memiliki bahaya kesehatan yang sangat berbeda tergantung pada tempat penyimpanan lemaknya. Tingkat indeks massa tubuh tidak dapat mengidentifikasi perbedaan ini.
Keempat, BMI dapat memberikan skor "kegemukan" yang lebih tinggi pada orang yang memiliki tinggi badan pendek. Hal ini disebabkan karena rumus perhitungan BMI tidak sepenuhnya mempertimbangkan proporsi tubuh.
Sekarang ini banyak ahli kesehatan yang menganjurkan penggunaan alat ukur tambahan sebagai pelengkap pengukuran indeks massa tubuh (BMI), seperti pengukuran lingkar pinggang, rasio pinggang-pinggul, atau analisis komposisi tubuh. Perhitungan yang lebih mendalam yang disebut ini, menurut mereka, dapat memberikan informasi yang lebih akurat tentang risiko penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi.
Selain itu, untuk menilai kesehatan secara menyeluruh, ada beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti gaya makan, tingkat aktivitas fisik, riwayat kesehatan keluarga, dan tingkat stres.
Editor : Pimred Laksamana.id
