Pada tahun 2024, produksi daging sapi potong diperkirakan mencapai 416.700 ton, ditambah dengan daging kerbau sekitar 16.200 ton, sehingga total produksi mencapai 432.900 ton. Sedangkan konsumsi nasional diestimasi mencapai 724.200 ton.
"Kekurangan ini diantisipasi dengan impor sapi potong bakalan dan daging dan jeroan beku, serta program peningkatan populasi sapi potong dan kerbau," ujar dia.
Selanjutnya, dalam pengembangan dan penerapan teknologi reproduksi, beberapa aspek yang perlu dilakukan antara lain inseminasi buatan (IB), sinkronisasi estrus, transfer embrio, dan pemetaan genetik diharapkan berkontribusi dalam membantu meningkatkan populasi dan memperbaiki sifat-sifat produktif hewan secara signifikan.
“Performa reproduksi didukung oleh kualitas genetik yang jelas dan ditemukan banyak indikator penanda tingkat fertilitas pada gen tertentu,” katanya.
Baca juga:
Selain itu, penelitian mengenai genetik sapi di Indonesia seharusnya dikembangkan lebih lanjut pada sapi dan spesies lainnya dan dikembangkan secara menyeluruh dengan teknologi reproduksi lainnya untuk meningkatkan ketersediaan daging dan susu nasional secara lebih cepat.
"Genetik mapping ini bertujuan untuk mengatasi dampak seleksi jangka panjang yang selama ini lebih fokus pada produksi susu, daging, dan konformasi sapi tanpa memperhatikan faktor genetik," katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., dalam sambutannya menyebutkan bahwa Prof. Dr. drh. Agustina Dwi Wijayanto dan suaminya Prof. drh. Agung Budiyanto merupakan salah satu dari 526 Guru Besar Aktif yang dimiliki UGM, dan merupakan salah satu dari 21 Guru Besar Aktif dari 32 Guru Besar yang pernah dimiliki oleh Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
Editor : Pimred Laksamana.id
