Pasutri Prof. Agung dan Agustina Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM

Pasutri Prof. Agung dan Agustina Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM
Pasutri Prof. Agung dan Agustina Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM

Terdapat hal menarik dalam prosesi pengukuhan guru besar di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang baru saja berlangsung.

Pasalnya, dua dosen besar dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada adalah pasangan suami istri.

Mereka adalah Prof. Dr. drh. Agustina Dwi Wijayanto, M.P., dan suaminya Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D.

Mereka dikukuhkan bersama sebagai Guru Besar di Balai Senat Gedung Pusat UGM pada hari Kamis (27/2/2025) lalu.

Agustina diangkat sebagai Guru Besar dalam bidang Farmakokinetik dan Terapi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Sementara itu, suaminya, Prof. Agung Budiyanto, dikukuhkan sebagai Guru Besar pada bidang Bioteknologi Reproduksi Veteriner Ruminansia di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.

Baca juga:

Dinyatakan sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran Hewan

Dalam pidatonya, Agustina menjabarkan tema "Peran Farmakokinetik dan Terapi Veteriner dalam Kesehatan Global (One Health)".

Agustina menjelaskan, dalam dua dekade terakhir, telah terjadi berbagai masalah kesehatan global yang memperlihatkan pentingnya memahami kerja sama antar sektor dan disiplin ilmu dalam menyelesaikan masalah penyakit.

Kesehatan global, Kesehatan Bersama atau One Health adalah konsep yang muncul sebagai tanggapan atas penyebaran masalah Antimicrobial Resistance (AMR).

Menurutnya, resistansi antimikroba muncul karena beberapa hal, antara lain penggunaan antimikroba (terutama antibiotik) yang tidak tepat, penggunaan antibiotik sebagai stimulan pertumbuhan pada hewan ternak dan produksi.

Penggunaan antibiotik secara meluas sebagai obat pencegahan penyakit dan infeksi sekunder.

"Saat ini pengobatan infeksi di dunia kedokteran hewan sangat bergantung pada penggunaan antimikroba, padahal Konsep One Health adalah pendekatan yang menyeluruh yang menggabungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mengatasi tantangan kesehatan global," kata Prof. Agustina seperti dikutip dari laman UGM, Minggu (2/3/2025).

Baca juga:

Menurut Agustina, pendekatan lintas disiplin ilmu ini yang menjadikan konsep One Health sebagai metode yang paling relevan untuk mengatasi masalah Kesehatan Global.

Konsep pendekatan One Health sangat berguna dalam menangani penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menyebar dari hewan ke manusia. Contoh penyakit tersebut adalah flu burung, sindrom pernapasan akut parah (SARS), dan Covid-19, serta berbagai penyakit strategis lainnya seperti rabies dan antraks.

Menurut Agustina, farmakokinetik veteriner memiliki peran penting sebagai dasar pengaturan dosis obat hewan yang optimal, sehingga menghasilkan dosis yang efektif dan durasi pemberian obat yang tepat untuk membunuh mikroba secara menyeluruh.

Fungsi farmakokinetik bersama dengan farmakodinamika veteriner akan menghambat terjadinya Resistensi Antibiotik Mikroba (AMR) dengan memastikan mikroba akan mati dan mencegah terbentuknya strain resisten.

“Dari aspek keamanan pangan, peran farmakokinetik veteriner dapat menyediakan informasi mengenai kecepatan penghapusan, waktu paruh obat, waktu penghentian obat, serta menetapkan batas residu maksimum obat-obatan yang digunakan untuk kesehatan hewan agar aman dikonsumsi,” katanya.

Di bidang keamanan pangan, penggunaan terapi veteriner dengan obat hewan yang legal menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk memastikan efektivitas dan keamanan produk hewan yang dikonsumsi manusia.

Seperti daging, telur, susu, dan produk turunannya seperti keju, yogurt, margarine, dan lain-lainnya.

Bahkan keamanan penggunaan limbah hewan produksi yang dimanfaatkan sebagai pupuk, seperti limbah hewan, juga menuntut perhatian terhadap kemungkinan penyebaran bahan antimikroba resisten di lingkungan dan hijauan.

Produk pertanian, seperti buah dan sayuran, yang juga dikonsumsi oleh manusia.

“Penggunaan pendekatan multi sektor dan multi kemampuan sangat diperlukan karena sebagai manusia yang memiliki kebutuhan makanan yang cukup tinggi tidak bisa lepas dari konsumsi protein yang berkualitas dan lingkungan yang sehat dan aman untuk hidup,” katanya.

Sementara Agung Budiyanto menyampaikan pidato dengan judul "Aplikasi Bioteknologi Reproduksi Veteriner dan Peta Genetik dalam Meningkatkan Mutu dan Populasi Sapi di Indonesia."

Dalam pidatonya, Agung menyatakan bahwa peningkatan populasi sapi di tanah air terkendala oleh beberapa hal utama.

Salah satu diantaranya adalah hasil reproduksi yang belum optimal, seperti kualitas telur yang buruk, tingkat kehamilan dan kelahiran yang rendah, gangguan reproduksi yang tinggi, serta penerapan teknologi reproduksi yang belum sepenuhnya maksimal.

Selain itu, dukungan sumber daya manusia (SDM) di bidang peternakan dan kesehatan hewan secara keseluruhan masih belum merata dari segi kualitas maupun jumlahnya.

Faktor infrastruktur dan fasilitas yang belum digunakan secara efektif dan efisien, serta faktor ekonomi makro yang membuat bisnis peternakan dan kesehatan hewan menjadi tidak stabil, dan tentunya aplikasi teknologi reproduksi belum sepenuhnya dioptimalkan.

Dari catatan statistik Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan pada tahun 2023 terdapat defisit produksi sebesar 286,2 ribu ton dalam hal daging sapi dan kerbau.

Pada tahun 2024, produksi daging sapi potong diperkirakan mencapai 416.700 ton, ditambah dengan daging kerbau sekitar 16.200 ton, sehingga total produksi mencapai 432.900 ton. Sedangkan konsumsi nasional diestimasi mencapai 724.200 ton.

"Kekurangan ini diantisipasi dengan impor sapi potong bakalan dan daging dan jeroan beku, serta program peningkatan populasi sapi potong dan kerbau," ujar dia.

Selanjutnya, dalam pengembangan dan penerapan teknologi reproduksi, beberapa aspek yang perlu dilakukan antara lain inseminasi buatan (IB), sinkronisasi estrus, transfer embrio, dan pemetaan genetik diharapkan berkontribusi dalam membantu meningkatkan populasi dan memperbaiki sifat-sifat produktif hewan secara signifikan.

“Performa reproduksi didukung oleh kualitas genetik yang jelas dan ditemukan banyak indikator penanda tingkat fertilitas pada gen tertentu,” katanya.

Baca juga:

Selain itu, penelitian mengenai genetik sapi di Indonesia seharusnya dikembangkan lebih lanjut pada sapi dan spesies lainnya dan dikembangkan secara menyeluruh dengan teknologi reproduksi lainnya untuk meningkatkan ketersediaan daging dan susu nasional secara lebih cepat.

"Genetik mapping ini bertujuan untuk mengatasi dampak seleksi jangka panjang yang selama ini lebih fokus pada produksi susu, daging, dan konformasi sapi tanpa memperhatikan faktor genetik," katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., dalam sambutannya menyebutkan bahwa Prof. Dr. drh. Agustina Dwi Wijayanto dan suaminya Prof. drh. Agung Budiyanto merupakan salah satu dari 526 Guru Besar Aktif yang dimiliki UGM, dan merupakan salah satu dari 21 Guru Besar Aktif dari 32 Guru Besar yang pernah dimiliki oleh Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag: