Ia kemudian mengikuti ujian kedua, dan kemudian dinyatakan lulus.
Meskipun ia hanya 149 sentimeter saja, orang-orang Amerika tidak melihat itu sebagai masalah yang besar.
Menurut Rosita, yang dibutuhkan pasukan AS adalah kemampuan yang dimiliki oleh calon pasukannya.
Mereka hanya menilai potensi calon tentara, untuk kemudian dimasukkan ke ke Angkatan Darat Amerika.
Berbeda dengan di Indonesia, yang menentukan tinggi badan sebagai syarat utama bagi suami pembantu atau istri kontrak.
"Mereka tidak memperhatikan tinggi badannya," katanya.
Setelah sekolah militer AS, Rosita mendapat tiga kesempatan pekerjaan yang ditawarkan.
Pertama-tama sebagai pengemudi, kemudian sebagai mekanik, dan terakhir sebagai pembantu dapur atau pematok.
"Saya memilihnya karena karena dia hanyalah mekanik," kata Nanda tersenyum.
Editor : Pimred Laksamana.id
