Scroll untuk baca artikel

Grup Merdeka (MDKA & MBMA) Siap Menuai Keuntungan dari Eksplorasi Emas dan Nikel

Grup Merdeka (MDKA & MBMA) Siap Menuai Keuntungan dari Eksplorasi Emas dan Nikel
Grup Merdeka (MDKA & MBMA) Siap Menuai Keuntungan dari Eksplorasi Emas dan Nikel

Pada Proyek Emas Pani, MDKA menargetkan produksi emas bisa mencapai sekitar 150.000 ounces pada tahun 2026. MDKA kemudian akan mengerek produksi hingga bisa mencapai 300.000 ounces di tahun-tahun berikutnya.

Tambang emas yang terletak di Gorontalo memiliki kadar lebih dari 6,9 juta ons emas. MDKA akan melakukan penambangan Pani secara bertahap sampai dapat mencapai taraf produksi maksimum sebesar 500.000 ons emas setiap tahunnya.

Di luar fokus pada komoditas emas, perusahaan tambang mineral yang berhubungan dengan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) serta Garibaldi "Boy" Thohir ini juga aktif dalam pengembangan sektor nikel. Kegiatan operasi dan pengekspansian untuk komoditas nikel dari grup Merdeka dilakukan lewat PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).

Meskipun demikian, dalam konteks bisnis, pasar untuk nikel berbeda dibandingkan dengan emas yang mencapai puncak sepanjang masa; harga komoditas nikel tetap relatif stabil. Namun, baru-baru ini, nilai kontrak berjangka nikel telah mengalami peningkatan dan kini tercatat di atas tingkat US$ 16.500 per ton.

UNIDO Menjajari Kemungkinan Perkembangan Industri Ramah Lingkungan dan Pemurnian Nikel di Indonesia

Albert menggarisbawahi rentang harga antara US$ 14.000 dan US$ 15.000 sebagai zona dukungan untuk komoditas nikel. "Ini adalah tingkat dukungan yang telah kita amati sebelumnya. Saya pun tak pasti apakah harganya akan tetap di situ atau tidak," jelas Albert.

Dalam konteks pengembangan industri nikel, langkah terakhir dilakukan tanggal 13 Maret 2025 ketika MBMA merilis penjualan pertama campuran hidroksida takik (Mixed Hydroxide Precipitate/MHP). Produk ini diproduksi oleh PT ESG New Energy Material (PT ESG), sebuah joint venture antara teknologi HPAL dan pihak GEM Co., Ltd.

PT ESG mendapatkan Surat Ijin Usaha Industri di bulan Februari 2025 dan melaksanakan debutnya dengan menjual secara publik pada Maret 2025 sambil mengantarkan 6.500 metrik ton nikel berbentuk MHP. Pengiriman ini adalah awal seri pengiriman terjadwal untuk seluruh tahun 2025.

Pabrik HPAL milik PT ESG didesain untuk menghasilkan sebanyak 30.000 ton nikel dalam bentuk MHP setiap tahunnya. Secara spesifik, Unit Produksi 1 yang memiliki kapasitas produksi 20.000 ton per tahun sudah mulai beroperasi secara komersial di pertengahannya Desember 2024.

Train 2 dengan kapasitas sebesar 10.000 ton per tahun sedang dalam proses commissioning dan ditargetkan untuk mencapai produksi awalnya pada kuarter kedua tahun 2025. Untuk menjamin suplai bahan baku yang tetap dan ekonomis, tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), dimiliki oleh MBMA, akan memberikan sumber biji limonit yang terus-menerus kepada PT ESG dalam periode waktu yang lama.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini