Angin Timur: Angin Barat adalah novel pertama Pearl Sydenstricker Buck. Novel ini berlatar tahun 1930-an di Tiongkok dan dipengaruhi oleh pengalamannya menghabiskan separuh hidupnya di sana. Dengan novel ini, Pearl ingin menggambarkan perbedaan budaya yang mencolok antara Timur dan Barat yang diceritakan dalam kisah romantis.
Dalam novel berhalaman 276, Pearl menceritakan kisah dua wanita yang berasal dari dua latar belakang kebudayaan yang berbeda. Kedua wanita tersebut kemudian bertemu dengan budaya baru dan mau mengalami peranannya hingga menghadapi konflik -- konflik kebudayaan yang cukup serius. Semua yang mereka lakukan dilakukan hanya karena cinta.
Perempuan pertama yang disebutkan adalah Kwei Lan. Kwei Lan tumbuh dalam keluarga bangsawan yang taat pada tradisi Cina kuno. Dalam tradisi ini, seorang perempuan biasanya telah diputuskan untuk menikah oleh orang tuanya bahkan sebelum ia dilahirkan. Setelahnya, ia akan diputuskan menikah kembali ketika berusia enam tahun. Kwei Lan mengalami hal ini.
Selain itu, Kwei Lan dipelajari untuk percaya bahwa kecantikan seorang perempuan terletak pada ukuran kakinya yang kecil dan manis. Oleh karena itu, Kwei Lan dan perempuan bangsawan lainnya di Cina, mulai dari usia 4 atau 6 tahun, telah memasangikat kaki mereka.
Kwei Lan berusaha untuk terlihat cantik dan menerima rasa sakit yang akan dialaminya seumur hidup. Tradisi mengikat kaki China dilakukan dengan cara berikut: Pertama, kaki akan direndam dalam air panas, kuku jarinya dipotong pendek, lalu kaki dipijat dan diolesi dengan minyak. Kedua, empat jari kaki kecuali jempol diselipkan di bawah dan ditarik menuju ke arah tumit, lalu dibalut menggunakan perban.
Meski menyakitkan, Kwei Lan menerimanya. Karena sejak kecil ia telah dipengaruhi untuk menganggap rasa sakit itu sebagai suatu kebanggaan. Dengan harapan bahwa suaminya akan mencintainya lebih karena kaki yang lemahnya.
"Aku selalu bangga dengan kaki kecilku! Saat aku masih kecil, ibuku selalu memandanginya dengan cinta dan sabar, mengenakan kompres hangat, dan membungkusnya dengan perban yang rapat setiap hari. Ketika aku menangis karena rasa sakitnya, ia selalu menenangkanku dengan berkata bahwa suatu hari suamiku akan bangga dengan kecantikan kakiku." (hal 61)
Kwei Lan menikah dengan seorang dokter Tiongkok yang telah terpapar dengan budaya Barat dan telah kehilangan kepercayaan terhadap adat istiadat. Bagi suaminya, adat istiadat tidak masuk akal. Di sini, konflik mulai muncul. Ia merasa sangat sulit menyesuaikan diri dengan suaminya yang modern dan berpendidikan Barat.
Konflik pertama yang terjadi adalah suaminya mengharapkan Kwei Lan untuk setara dengannya. Suaminya juga ingin Kwei Lan memiliki penampilan dan cara berpikir seperti perempuan Barat. Oleh karena itu, suaminya meminta Kwei Lan untuk belajar membaca dan menulis. Selain itu, suaminya menolak Kwei Lan melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayan hanya untuk memenuhi keinginannya dan kebutuhan keluarganya. Hal ini sebenarnya bertentangan dengan adat kebiasaan orang Tionghoa, di mana seorang perempuan harus menghormati suaminya dan menjalankan tugas-tugas pelayanan terhadap mertuanya serta tidak boleh menonjol di depan umum.
Konflik kedua terjadi ketika suami Kwei Lan, sebagai seorang dokter, menyadari akibat dari tradisi mengikat kaki. Tradisi ini bisa menyebabkan penderitanya tidak dapat berdiri tegak dengan baik dan bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan. Ia memintanya melepaskan ikatan kaki Kwei Lan. Sebagai seorang yang masih muda, kakinya masih memiliki potensi untuk berkembang dengan sehat. Namun, permintaan suaminya tidak langsung diterima oleh Kwei Lan. Kwei Lan malah merasa tidak cantik dan tidak disukai oleh suaminya.
Editor : Pimred Laksamana.id
