Begitu pula dengan produksi dan lifting. Menurutnya, dua istilah tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai angka yang sama.
Produksi merupakan hasil migas yang dikeluarkan dari kegiatan operasi, sedangkan lifting berkaitan dengan bagian produksi yang telah diangkat dan menjadi dasar dalam mekanisme penjualan serta penerimaan negara.
“Produksi itu apa yang kita keluarkan, hasil dari operasi kita. Tapi tidak serta-merta yang kita produksikan itu bisa di-lifting. Ibaratnya, belum tentu bisa dijual,” ujarnya.
Karena itu, Gyzelda meminta wartawan lebih kritis ketika menemukan data produksi.
“Kalau nanti dengar ada angka produksinya segini, angka lifting-nya berapa? Itu untuk memastikan apakah barang yang mereka produksikan sudah bisa dijual atau belum,” katanya.
Industri Migas Bukan Pabrik
Pemahaman terhadap karakter industri migas juga penting agar masyarakat tidak keliru menilai angka produksi.Gyzelda menjelaskan, lapangan migas berbeda dengan pabrik. Jika pabrik dapat meningkatkan produksi dengan menambah bahan baku dan kapasitas produksi, sumur migas memiliki karakteristik alamiah yang produksinya cenderung menurun seiring waktu.
“Lapangan migas bukan seperti pabrik. Apa yang diproduksikan atau kita keluarkan dari dalam bumi itu sudah pasti isinya akan berkurang,” jelasnya.
Karena itu, diperlukan eksplorasi baru, pengeboran tambahan, perawatan sumur maupun penerapan teknologi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi.
Editor : Pimred Laksamana.id
