Dekat Bukan Berarti Diam, SKK Migas Minta Media Tetap Kritis dan Paham Data Migas

Dekat Bukan Berarti Diam, SKK Migas Minta Media Tetap Kritis dan Paham Data Migas
Dekat Bukan Berarti Diam, SKK Migas Minta Media Tetap Kritis dan Paham Data Migas

Laksamana.id | Bandung — Kedekatan antara industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dengan insan media bukan alasan untuk berhenti bertanya. Justru, pemahaman yang kuat terhadap proses bisnis migas menjadi modal penting bagi wartawan untuk menyajikan informasi yang kritis, akurat, dan mudah dipahami masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Media Gathering dan Peningkatan Kapasitas Media PHE OSES yang berlangsung di Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 21–23 September 2026.

Analis Senior Komunikasi SKK Migas, Gyzelda Disanty, mengingatkan wartawan agar tidak sekadar mengutip angka dan pernyataan, tetapi memahami konteks di balik setiap data yang diberitakan.

Menurut Gyzelda, industri hulu migas memiliki proses panjang, membutuhkan investasi besar, sekaligus menghadapi risiko tinggi. Mulai dari studi dan survei, eksplorasi, pengeboran, pengembangan hingga produksi, semuanya membutuhkan waktu dan perhitungan matang.

Ia menegaskan, hasil survei belum otomatis menunjukkan adanya cadangan migas. Kepastian baru dapat diperoleh setelah dilakukan pengeboran eksplorasi.

“Kalau tidak dilakukan pengeboran, kita tetap tidak akan tahu posisi minyaknya itu ada di mana. Jadi pengeboran eksplorasi,” kata Gyzelda.

Jangan Terjebak Angka

Salah satu hal yang ditekankan Gyzelda adalah pentingnya wartawan memahami perbedaan antara potensi, cadangan, produksi, dan lifting.

Ia mengingatkan, potensi yang terlihat dari hasil survei belum tentu berubah menjadi cadangan yang dapat diproduksikan.

“Potensi itu belum tentu menjadi cadangan. Survei itu cuma memberikan pemetaan. Selama belum dilakukan pengeboran, belum bisa dipastikan minyaknya ada di posisi itu,” jelasnya.

Begitu pula dengan produksi dan lifting. Menurutnya, dua istilah tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai angka yang sama.

Produksi merupakan hasil migas yang dikeluarkan dari kegiatan operasi, sedangkan lifting berkaitan dengan bagian produksi yang telah diangkat dan menjadi dasar dalam mekanisme penjualan serta penerimaan negara.

“Produksi itu apa yang kita keluarkan, hasil dari operasi kita. Tapi tidak serta-merta yang kita produksikan itu bisa di-lifting. Ibaratnya, belum tentu bisa dijual,” ujarnya.

Karena itu, Gyzelda meminta wartawan lebih kritis ketika menemukan data produksi.

“Kalau nanti dengar ada angka produksinya segini, angka lifting-nya berapa? Itu untuk memastikan apakah barang yang mereka produksikan sudah bisa dijual atau belum,” katanya.

Industri Migas Bukan Pabrik

Pemahaman terhadap karakter industri migas juga penting agar masyarakat tidak keliru menilai angka produksi.

Gyzelda menjelaskan, lapangan migas berbeda dengan pabrik. Jika pabrik dapat meningkatkan produksi dengan menambah bahan baku dan kapasitas produksi, sumur migas memiliki karakteristik alamiah yang produksinya cenderung menurun seiring waktu.

“Lapangan migas bukan seperti pabrik. Apa yang diproduksikan atau kita keluarkan dari dalam bumi itu sudah pasti isinya akan berkurang,” jelasnya.

Karena itu, diperlukan eksplorasi baru, pengeboran tambahan, perawatan sumur maupun penerapan teknologi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi.

Media Harus Berani Bertanya

Dalam forum tersebut, Gyzelda juga menekankan pentingnya wartawan memilih narasumber sesuai dengan substansi persoalan.

SKK Migas, kata dia, berada dalam ranah kegiatan usaha hulu migas bersama KKKS. Sementara persoalan BBM dan kegiatan hilir memiliki pihak yang berwenang berbeda.

“Jangan sampai kalau nanya BBM ke kita. Sudah tahu ya, ke badan usaha atau BPH. Kalau ada kebijakan, itu juga bukan di SKK Migas. Kebijakan keluar dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah sesuai kewenangannya,” pungkasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan baik antara media dan industri bukan berarti mengurangi jarak kritis seorang wartawan.

Sebaliknya, semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin besar pula tanggung jawab media untuk memeriksa data, menguji informasi, mencari narasumber yang tepat, serta menyampaikan fakta secara berimbang.

Sebab, bagi masyarakat, angka produksi, lifting, cadangan, hingga investasi migas bukan sekadar istilah teknis. Di baliknya terdapat persoalan energi, penerimaan negara, investasi, lapangan kerja, dan kebutuhan masyarakat yang membutuhkan informasi yang benar. (*)

Editor : Pimred Laksamana.id