"Seharusnya SMPN 7 tambang paham dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.Dimana harga serba mahal sedangkan mencari duit sangat sulit.Apalagi kami yang kerja serabutan ini.Tentu kondisi ini teramat berat buat kami hadapi.Janganka untuk membayar pungutan pungutan yang beragam tersebut,untuk beli buku tulis saja kami harus pontang panting untuk memenuhinya."ujarnya.
"Jika sekolah Arif bukankah bisa memberikan kelonggaran pada orang tua untuk mencari seragam diluar atau memakai seragam Abang atau kakaknya yang telah tamat.
Kami bukannya mau hitung hitungan,tapi jika ada seragam lain dan sama kenapa tidak dibiarkan untuk dipakai,kenapa wajib beli disekolah dan warna bertukar dari tahun terdahulu, Jadi kami harus terpaksa beli di sekolah.
Belum lagi soal pungutan pungutan lain,baik untuk alas meja 10 ribu persiswa,foto ijazah 25 ribu rupiah ,dan biaya biaya lain yang tak terduga dari kesolah."Menurut EN agar permasalahan ini tidak terlalu mencolok,Pihak SMPN 7 Tambang sengaja melibatkan komite untuk memungut uang uang tersebut,Seakan akan Pihak Sekolah Dan Ketua komite diduga bersekongkol dengan kepal sekolah untuk mendapatkan pundi pundi.
Editor : Pimred Laksamana.idSumber : Tim
