Lalu Edwin akan membandingkan saham-saham dari sektor-sektor tersebut, mencari saham yang memiliki valuasi paling rendah dan potensi kenaikan harga yang lebih besar.
Sedangkan investasi saham alpha adalah investasi jangka pendek yang memanfaatkan momentum dengan menerapkan analisis teknis.
Misalnya, ada sebuah saham yang harga sahamnya naik sangat tajam karena akan melakukan tindakan korporasi seperti membeli kembali saham (buyback), rencana penggabungan dan akuisisi hingga pembagian dividen.
"Saham alpha bisa jangka waktu investasinya singkat, bisa day trade atau dua hari atau paling lama berkisar satu sampai dua minggu," kata Edwin.
Karena waktu yang relatif singkat, keuntungan yang diraih Edwin tidaklah besar. Biasanya, dia hanya menghasilkan keuntungan ketika imbalan hasil atau terjadi kenaikan sekitar 3%–5%.
Sementara itu, untuk saham yang merupakan aset utama, biasanya ia mencari keuntungan minimum 10% karena sifatnya yang jangka panjang atau lebih tinggi dari imbal hasil obligasi, yang saat ini berkisar sebesar 6,8%.
Edwin menyarankan bahwa dalam kondisi pasar yang sangat tidak stabil, investor bisa mencari banyak keuntungan tambahan. Namun, dia tidak memilih saham apa pun untuk keuntungan tambahan. Edwin lebih suka memilih saham yang paling stabil dan memiliki ranking pertama dan kedua.
"Alpha yang lebih teknikal, tapi faktor fundamental harus terpenuhi. Saya tidak berani berinvestasi untuk saham lapis ketiga. Intinya, saham lapis pertama dan kedua," katanya.
Hindari saham IPO
Edwin tidak pernah berinvestasi di saham perusahaan baru melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Editor : Pimred Laksamana.id
