Di tengah maraknya pemberitaan soal sawmil ilegal, pembagian sembako ini justru menimbulkan kecurigaan. Apakah ini benar-benar bentuk kepedulian, atau hanya upaya pencitraan untuk menutupi aktivitas ilegal?
"Kalau memang niatnya membantu, kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru sekarang, saat bisnis mereka mulai disorot? Kenapa bukan perizinan yang mereka urus agar usaha bisa berjalan legal tanpa pungli dan membuka lapangan pekerjaan?" ujar seorang tokoh masyarakat yang mempertanyakan motif di balik aksi sosial tersebut.
*Dampak Lingkungan yang Dibiarkan?*
Dampak dari operasi sawmil ilegal ini tidak bisa dianggap remeh. Eksploitasi kayu secara besar-besaran berpotensi menyebabkan bencana lingkungan, seperti banjir dan kerusakan ekosistem Sungai Kampar. Selain itu, negara juga dirugikan dari sisi pajak dan perizinan, sementara keuntungan besar justru mengalir ke kelompok-kelompok tertentu yang diduga memanfaatkan celah hukum.
*Tantangan bagi Aparat: Berani Bertindak atau Terus Menutup Mata?*
Dengan munculnya nama Pak Kanit dalam video pembagian sembako, pertanyaan besar pun muncul: Apakah aparat benar-benar tidak tahu-menahu soal bisnis ilegal ini, atau mereka justru menjadi bagian dari jaringan yang melindunginya?Hingga saat ini, tidak ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk menertibkan puluhan sawmil ilegal yang telah merajalela di kawasan ini. Masyarakat menunggu tindakan nyata dari pemerintah dan aparat, bukan sekadar aksi sosial yang hanya bersifat sesaat.
Akankah ada penindakan hukum terhadap sawmil-sawmil ilegal ini? Atau praktik ini akan terus berjalan dengan perlindungan dari mereka yang seharusnya menegakkan hukum?*** Tim.
Editor : Pimred Laksamana.id
