Begini saja," lanjut Pak Kojo santai, "jika Bapak ingin kembali uangnya dengan cepat, saya yakin masalah ini bisa diselesaikan dengan cara yang santun dan hormat. Kata kuncinya, 'tertib di antara kita.'
Mendengar itu, Pak Broto langsung mengambil uang dari dompetnya, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan hasil tabungan mingguannya, dan menyerahkannya kepada Pak Kojo.
Ah, begitu saja!" seru Pak Kojo yang puas. "Ini contoh warga yang baik. Sekarang, mari kita tutup buku. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.
Keesokan harinya, warga ramai membicarakan insiden tersebut. Ada yang geli, ada juga yang geleng-geleng kepala. Salah satu warga bernama Bu Niti berkata, "Wah, katanya mau menangkap penjahat korupsi hingga ke Antartika. Tapi, ternyata diterima jawatan di antara kita. Tidak perlu membeli jaket tebal, cukup membawa uang saku saja!"
Sejak saat itu, julukan Pak Kojo berubah menjadi "Lurah Antara Kita". Meskipun demikian, dia tetap disukai warga karena sikapnya yang santun dan ramah. Siapa juga yang rela ke Antartika kalau masalah bisa diselesaikan dengan secangkir teh dan sepiring kue nastar?
Editor : Pimred Laksamana.id
