[humorpagi]: Si Lurah dan Koruptor Antar-Waktu

[humorpagi]: Si Lurah dan Koruptor Antar-Waktu
[humorpagi]: Si Lurah dan Koruptor Antar-Waktu
Bawahan Gubernur Kaltim Dituduh Main Judi, Kini Dibekuk

Jika kamu berjanji akan pergi ke Antartika jika es itu benar, aku akan pergi.

Menggeledah korupsi besar-besaran, yang melarikan diri dengan menggunakan jet pribadi.

Di sana aku menemukan mereka, di tengah badai salju yang menusuk tulang.

Tunggu dulu... apa ini? Sekarang ini menjadi kata maaf dan ampun!

Antartika pun akan menghilang, menggantikan tempat duduk antara kita.

Janji tidak akan dibebankan kepada orang yang tidak dapat membayar.

Pak Kojo adalah seorang lurah baru yang dipilih di Desa Sumberrejeki. Saat kampanye, dia seperti pahlawan anti-korupsi yang gigih. Dengan semangat yang tak terkalahkan, dia berjanji akan menindak tindakan para koruptor, bahkan sampai ke ujung bumi dan ke Antartika jika perlu! Warga Desa Sumberrejeki sangat terkesan mendengar hal ini. Mereka membayangkan Pak Kojo terbang di atas langit dengan kostum seperti Superman, melempar jaring besar untuk menangkap para koruptor yang semakin berlari di atas lapisan es.

Tapi, setelah dilantik secara resmi, perilaku Pak Kojo mulai berubah. Suaranya tidak lagi keras, tapi lebih lembut seperti kapas basah. Pada suatu sore, dia menerima tamu istimewa: Pak Broto, seorang mantan bendahara RT yang terungkap menggelapkan kas arisan ibu-ibu PKK sejumlah Rp2 juta. Alih-alih marah keras, Pak Kojo malah menyajikan teh hangat dan kue nastar favoritnya.

Pak Broto," kata Pak Kojo dengan nada bijak sambil membenarkan dasinya, "saya tahu Anda pasti memiliki alasan untuk melakukan ini. Mungkin tekanan hidup yang Anda hadapi, atau mungkin karena harga cabai yang sedang melonjak drastis?

Pak Broto hanya bisa berucapkan sesuatu dengan terpaksa, meski tidak yakin harus menjawab apa.

Begini saja," lanjut Pak Kojo santai, "jika Bapak ingin kembali uangnya dengan cepat, saya yakin masalah ini bisa diselesaikan dengan cara yang santun dan hormat. Kata kuncinya, 'tertib di antara kita.'

Mendengar itu, Pak Broto langsung mengambil uang dari dompetnya, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan hasil tabungan mingguannya, dan menyerahkannya kepada Pak Kojo.

Ah, begitu saja!" seru Pak Kojo yang puas. "Ini contoh warga yang baik. Sekarang, mari kita tutup buku. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.

Keesokan harinya, warga ramai membicarakan insiden tersebut. Ada yang geli, ada juga yang geleng-geleng kepala. Salah satu warga bernama Bu Niti berkata, "Wah, katanya mau menangkap penjahat korupsi hingga ke Antartika. Tapi, ternyata diterima jawatan di antara kita. Tidak perlu membeli jaket tebal, cukup membawa uang saku saja!"

Sejak saat itu, julukan Pak Kojo berubah menjadi "Lurah Antara Kita". Meskipun demikian, dia tetap disukai warga karena sikapnya yang santun dan ramah. Siapa juga yang rela ke Antartika kalau masalah bisa diselesaikan dengan secangkir teh dan sepiring kue nastar?

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag: