Meskipun demikian, dia harus tetap mengikuti peraturan yang ditetapkan, sehingga waktu yang dimiliki semakin menipis.
"Dokternya pas embrio transfer bilang 'Bismillah semoga kamu gantiin papamu ya jagain mama,' ujar Fanny sambil menangis.
Keyakinan Hajime Kondoh
Fanny dan suaminya menghadapi masa sulit itu dengan perjuangan masing-masing. Fanny melakukan transfer embrio sendiri, sementara suaminya mendapat perawatan di rumah sakit.
Meskipun belum mengetahui hasilnya, saat itu Hajime sangat yakin bahwa transfer embrio kali ini sukses.
Haijime telah mempersiapkan nama untuk calon kekasihnya.
Setelah seminggu proses transfer embrio dilakukan, Hajime Kondoh meninggal dunia pada bulan Oktober 2024, sebelum ia tahu tentang kehamilan Fanny.
Disebut Miracle
Fanny yang berjuang sendirian untuk mewujudkan keinginan Papa Udon menjadi cerita unik di klinik bayi tabungnya. Kehamilan Fanny dinyatakan sebagai keajaiban.
Ia berusaha memenuhi wasiat suaminya untuk hamil, melakukan transfer embrio setelah seminggu, istriya hamil, suaminya meninggal," kenang Fanny sambil menangis.
Pernyataannya menirukan kata-kata dokter kepada dia.
Fanny ingin memiliki anak
Kondisi kesehatannya yang menyebabkan Hajime Kondoh tidak bisa hidup lebih lama, membuat Papa Udon sangat menginginkan Fanny memiliki anak secepatnya.
Editor : Pimred Laksamana.id
