Dengan demikian, dalam tiga putaran ini, Prabowo akan mengumpulkan sekitar Rp 750 triliun dari kebijakan penghematan anggaran.
Menanggapi hal tersebut, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto menganggap bahwa anggaran yang dipangkas (penghematan) yang dinyatakan oleh Prabowo dalam pidatonya sangatlah membingungkan.
Angka tersebut muncul secara tak terduga, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang sumber dana yang digunakan untuk melakukan penghematan besar-besaran tersebut.
Mulai dari mana angka itu muncul, saya tidak tahu," kata Wija kepada laksamana.id.co.id, Senin (17/2). "Pernyataan seperti itu tidak akan pernah terwujud.
Dia khawatir tanpa komunikasi yang jelas dari pemerintah, hal tersebut akan membuat investor bingung terhadap kebijakan di Indonesia, akhirnya meningkatkan ketidakpastian.
"Angka yang membingungkan justru akan meningkatkan ketidakpastian, bukan kepercayaan," katanya.
Ia memberikan contoh seperti penghematan yang akan dilakukan Prabowo pada putaran ketiga. Ia menilai, pencapaian dividen sebesar Rp 300 triliun pada tahun 2025 kurang realistis untuk dicapai, apalagi dengan kondisi perekonomian tahun ini yang lebih sulit daripada tahun 2024.
"Saya menganggap angka Rp 200 triliun hingga Rp 300 triliun kurang realistis. Jika dividen BUMN pada tahun 2024 mencapai Rp 85 triliun, target sebesar Rp 110 triliun pada tahun 2025 sudah termasuk optimis," kata Wija.
Wija khawatir bahwa penghematan anggaran yang terjadi secara besar-besaran dan tiba-tiba ini akan menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia.
Editor : Pimred Laksamana.id
