Pada tahun 2020, wabah Covid-19 yang meluas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, telah menyebabkan perubahan pada pola hidup Jani.
Pasar menjadi sepi, banyak hal yang berubah dalam kehidupan. Pasar di mana orangtua berjalan mulai sepi, banyak barang dagangan yang tidak laris. Tidak hanya orangtua, hampir semua pedagang merasakan dampak dari pandemi Covid-19.
Berawal dari keluhan orang tuanya tentang dagangan yang sepi, pasangan suami istri ini mencoba membantu dengan menjual produk-produk di pasar, seperti sayuran, melalui media sosial Instagram dan melakukan pesanan lewat aplikasi WhatsApp.
Janu menerima 15 hingga 20 pesanan setiap harinya, mulai dari Klaten hingga Magelang. Perjalanan saat itu cukup berat, Janu harus membagi waktu dengan efektif. Malam hari Janu menyiapkan pesanan sayuran.
Setelah subuh, dia harus mengantar pesanan-pesanan, dan sebelum pukul tujuh pagi ia harus sudah berada di sekolah yang terletak di kaki Gunung Merapi untuk mengajar.
Dua tahun yang lalu, Janu merasa harus lebih fokus pada pekerjaannya. Dengan mempertimbangkan segala hal, Janu harus berani meninggalkan profesi gurunya. Janu memilih untuk meningkatkan bisnis penjualannya sayuran yang dia beri nama “Sayur Sleman”.
Baca juga:
Janu mengaku kini lebih nyaman bekerja dari rumah dan memiliki kesempatan untuk lebih banyak berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat. Pada tahun 2021, setelah kelahiran anaknya yang kedua, Janu memutuskan untuk berhenti menjadi guru.
Pada awal memulai Sayur Sleman, Janu merasa kesulitan untuk mengembangkannya. Uang yang diperolehnya hanya cukup untuk membayar pengantar dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja.
Tetapi Tuhan selalu memberi jalan bagi hambanya yang mau berusaha. Janu mengikuti kompetisi dari Program Pembangunan Bangsa Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia. Ide inovasi tentang Sayur Sleman milik Janu berhasil menang dalam kompetisi tersebut.
Editor : Pimred Laksamana.id
