Seorang wanita berusia 57 tahun harus segera mengambil alih tanggung jawab penyediaan kebutuhan keluarganya setelah suaminya.
Ibu menjual kacang camban di Kota Ternate hingga ke Kota Tidore. Alasannya untuk memberi makan dan melanjutkan pendidikan sembilan orang anaknya.
Baca juga:
Saat itu, kata dia, harga kelapa gila-only pada saat itu tidak dihargai lebih daripada Rp 1.000 per bungkus. Kadang-kadang ia pulang ke rumah membawa uang Rp 100-300 ribu saja.
Tunggu deh, ternyata uang hasil jualan bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena anak kandung dan anak tiri mereka berusia setara. Sampai saat-saat ujian sekolah pun mereka berdua mengikuti pahitnya tes pada waktu yang sama. Baiklah, biaya yang dibutuhkan pun menjadi ganda.
Saya merasa sangat lalu lintas saat melewati perkuliahanku dan semester baru saja dimulai.
"Saya telah menabung sedikit demi sedikit sejak lama yang lalu. Harus ada tabungan, jangan sampai mereka meminta uang tapi saya tidak punya," kata Sahrin.
Saat anak bungsunya masuk kuliah, Sahrin merasa momen itu tepat untuk mengubah jalur bisnisnya. Ia memutuskan untuk berhenti berjualan keliling dan memulai usaha di pasar tradisional.
"Saya menjual di pasar sekitar 10 tahun lalu. Awalnya, Saya menjual di depan bandara pagi hari dan kemudian di depan apotek siang hari. Namun, saat kapal Pelni berlabuh, saya menjual di pelabuhan," kata Sahrin.
Editor : Pimred Laksamana.id
