Sejujurnya, itu nasib "tiga anak Makassar" di Tanah Suci.
Pada waktu tersebut, Dokter Taruna, Dr Yudi, dan Salahuddin, tiba-tiba saja selesai melaksanakan ibadah Subuh dan Shalat Dhuha di Masjid Nabawi.
Sementara itu, saya pun baru saja memulai laporan langsung ke saluran Tribun Network tentang berita menarik mengenai "penundaan" 110 dari total 393 calon haji Kloter 15 Asal Ujungpandang yang terdampak di Madinah.
Mayoritas dari 110 jemaah tersebut terdiri atas warga dari Luwu Utara, Luwu Timur, serta Kota Makassar.
Kebetulan saja, kelompok jamaah yang tertinggal itu ditampung di empat hotel berbeda: Front Taiba, Taiba Suite, Ajnad Hotel, dan Haritah Frontel. Masing-masing hotel menjadi tempat tinggal bagi delegasi dari konsorsium Tazkiyah saat mereka menjalankan ibadah sunnat haji (melakukan sholat sebanyak 40 kali rakaat) serta ziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW di dalam kompleks Masjid Nabawi.
Setelah meliput, saya menerima undangan untuk bersilatuhrahmi dari Dokter Taruna dan kami sarapan bersama di Haritah Front Taibah.
Di halaman depan area pusat Gateway 339 Nabawi menuju tempat makan pagi, saya melihat kedekatan antara dokter dan rombongan Travels Tazkiyah Mandiri.
Dokter Taruna dan dokter Yudi, dan jamaah saling sapa, saat berselisih atau berpapasan.
Akan tetapi, kedua dokter tersebut lebih sering menyambut terlebih dahulu.
"Bagaimana? Sehat ya. Mari makan pagi. Jangan lupa minum banyak air putih, karena suhunya hampir mencapai 50 derajat," ujar sang dokter.
Editor : Pimred Laksamana.id