Scroll untuk baca artikel

Pendidikan Memiliki Akar yang Pahit tapi Buahnya Manis

Pendidikan Memiliki Akar yang Pahit tapi Buahnya Manis
Pendidikan Memiliki Akar yang Pahit tapi Buahnya Manis

Secara umum, tidak ada masalah dengan itu semua. Namun, dalam implementasinya, perlu dipertimbangkan lebih lanjut bagaimana pembelajaran yang menyenangkan sebenarnya dapat diwujudkan. Contohnya, ice breaking dengan menyanyi, tepuk-tepuk, dan joged mungkin dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak TK/SD. Namun, pada tingkat SMP/SMA, kegiatan serupa itu mungkin dapat dianggap aneh dan lucu.

Kita setuju bahwa kebosanan adalah sifat alami dari setiap manusia. Manusia secara alami cenderung memiliki kecenderungan untuk merasa bosan, terutama ketika melakukan sesuatu yang berulang-ulang dan tidak menantang. Perlu kita pahami dengan lebih baik konsep "belajar dengan gembira" yang sebenarnya.

Ketika membicarakan hal ini, saya teringat kata-kata Imam Syafi'i, seorang cendekiawan Muslim. Beliau berkata, "Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan". Karena belajar adalah suatu proses yang panjang dan melelahkan, setiap individu yang belajar harus menyadari bahwa rasa bosan dan hambatan adalah hal yang wajar dalam proses pendidikan dan menuntut ilmu.

Pendidikan merupakan proses yang penuh tantangan. Menurut Aristoteles dan Imam Syafi'i, keberhasilan dalam pendidikan tidak bisa terhindarkan dari hambatan dan ujian. Namun, bagi mereka yang berhasil melewatinya, mereka akan mendapatkan hasil yang manis. Mereka akan terhindar dari kesulitan dan kesalahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Buah Manis: Hasil Transformasional

Saya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan kita belajar dan bersekolah. Saat kecil dulu, orang tua selalu mengatakan bahwa mengenyam pendidikan yang baik akan membuat kita pintar dan nantinya "bisa menjadi orang-orang yang sukses". Ini membuat orang tua dan keluarga bangga.

Dalam kebudayaan Indonesia, persoalan pendidikan dan persekolahan masih sering dianggap terkait dengan pencarian pekerjaan. Banyak orang berpikir bahwa jika seseorang memiliki pendidikan tinggi, maka mereka akan lebih mudah menemukan pekerjaan yang sesuai. Pekerjaannya akan nyaman, mudah, dan gajinya tinggi.

Pikiran seperti itu terasa kurang tepat, meskipun tidak sepenuhnya salah. Banyaknya lulusan universitas yang mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan adalah fenomena sosial yang nyata. Pada saat ini, banyak sarjana yang tidak dapat diterima dalam dunia kerja karena lapangan pekerjaan yang terbatas. Tidak mengherankan jika beberapa waktu lalu, topik #IndonesiaGelap menjadi tren di media sosial, karena generasi muda merasa bahwa negara ini semakin hari semakin sulit dalam hal mencari pekerjaan.

Tapi jika kita pandang lebih dalam lagi, masalah tentang kepentingan belajar, pendidikan, dan sekolah itu tidak hanya berujung pada mencari pekerjaan. Bahwa pada akhirnya, orang yang berpendidikan tinggi tentu akan lebih banyak peluang untuk mencari penghidupan dan pekerjaan. Namun, pendidikan sebenarnya memiliki tujuan mulia yang melampaui itu semua.

Pendidikan membantu manusia melihat dunia dari berbagai sudut pandang, membuat keputusan yang berdasarkan logika, dan berkontribusi pada masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia. Membuat mereka lebih berguna bagi kehidupan. Kualitas manusia yang unggul hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan yang panjang dan menyeluruh. Hasil transformasi akan optimal jika negara berhasil menyajikan sistem pendidikan yang berkualitas. Dimana lembaga pelaksana visi pendidikan itu beroperasi dengan baik dan benar.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Pengobatan
Terkini