Pendidikan Memiliki Akar yang Pahit tapi Buahnya Manis

Pendidikan Memiliki Akar yang Pahit tapi Buahnya Manis
Pendidikan Memiliki Akar yang Pahit tapi Buahnya Manis

Saya memilih kutipan kata-kata bijak dari Aristoteles untuk judul tulisan ini. Selain relevan dengan konteks sekarang, juga perlu dibahas gagasan progresif untuk memicu diskusi yang lebih mendalam. Di tengah ramainya berita tentang guru dewasa ini, budaya menghargai pemikiran masih terasa langka dan kurang populer.

Dunia pendidikan dan keguruan terasa sangat mekanistik. Aroma feodalistik yang kental telah menghilangkan tradisi berpikir kritis di kalangan pendidik. Sistem birokrasi mengharuskan ketepatan dan langkah seragam, sehingga diskusi alternatif bahkan dianggap sebagai kebodohan. Prinsip-prinsip moral, etika, dan budaya sering membuat seseorang ragu untuk menyuarakan pikiran yang berbeda. Padahal, guru sendiri diharapkan dapat menanamkan tradisi berpikir kritis pada murid-muridnya sebagai bagian dari paradigma pembelajaran di abad ke-21.

Ribuan tahun yang lalu, ketika bangsa kita masih dipengaruhi oleh corak kesukuan dan kerajaan serta sibuk berperang untuk memperluas wilayah kekuasaan, di barat sana telah berkembang peradaban Yunani Kuno yang maju. Dengan berbagai kota negara (polis), Yunani Kuno berhasil menjadi salah satu peradaban maju pada masanya. Muncullah tokoh-tokoh pemikir (filsuf) terkenal, salah satunya adalah Aristoteles (384-322 SM).

Aristoteles adalah seorang guru asli yang memiliki sebuah sekolah bernama Lyceum di kota Athena, Yunani. Ia menjabat sebagai guru besar di sekolah tersebut dan melahirkan banyak karya-karya ilmu yang masih dapat diakses sampai saat ini. Ia diakui sebagai salah satu dari tiga tokoh intelektual yang telah memberikan kontribusi besar dalam kemajuan peradaban negara-negara barat sejak zaman kuno hingga era modern.

Aristoteles menggunakan perumpamaan tanaman untuk menjelaskan paradoks dalam proses pendidikan. Filsuf Yunani ini menyoroti dua aspek pendidikan yang saling terkait: kesulitan yang dialami sewaktu belajar (akar pahit) dan hasil positif yang diperoleh (buah manis).

Akar Pahit: Proses Pembelajaran yang Menguji Keberanian

Pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Dalam perjalanan ini, kita sering menemukan rintangan dan hambatan yang menghadang. Bagaimana setiap individu mengalami perjalanan pendidikan ini sebagai proses pembelajaran adalah kepercayaan yang harus diperjelas. Prinsip yang tepat dalam memandang sebuah proses pendidikan akan menghasilkan aksi-aksi yang mendukung kesuksesan pendidikan tersebut.

Proses pembelajaran tidak hanya menantang bagi siswa, melainkan juga bagi guru. Kedua pihak ini berpartisipasi dalam proses yang dinamis untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan akhirnya akan membawa pada cita-cita mulia yang diharapkan oleh setiap individu pendidikan.

Menghadapi tantangan tidak hanya membatasi konteksnya dalam situasi pembelajaran menarik, tetapi juga menciptakan rasa ingin tahu (curiosity) sehingga para pihaknya terlibat dalam proses penemuan ilmu pengetahuan. Namun, menghadapi tantangan juga berarti bahwa siapa pun yang ingin menjadi manusia terdidik harus siap menghadapi segala hambatan dan rintangan dalam proses pendidikan itu sendiri.

Saat ini, pembelajaran yang menyenangkan telah menjadi hal yang diharapkan. Yang dimaksud dengan menyenangkan adalah agar guru dan siswa merasa nyaman dan menikmati proses pembelajaran. Salah satu konsep terbaru dalam pembelajaran adalah Deep Learning, salah satu aspeknya adalah pembelajaran menyenangkan (joyful learning).

Secara umum, tidak ada masalah dengan itu semua. Namun, dalam implementasinya, perlu dipertimbangkan lebih lanjut bagaimana pembelajaran yang menyenangkan sebenarnya dapat diwujudkan. Contohnya, ice breaking dengan menyanyi, tepuk-tepuk, dan joged mungkin dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak TK/SD. Namun, pada tingkat SMP/SMA, kegiatan serupa itu mungkin dapat dianggap aneh dan lucu.

Kita setuju bahwa kebosanan adalah sifat alami dari setiap manusia. Manusia secara alami cenderung memiliki kecenderungan untuk merasa bosan, terutama ketika melakukan sesuatu yang berulang-ulang dan tidak menantang. Perlu kita pahami dengan lebih baik konsep "belajar dengan gembira" yang sebenarnya.

Ketika membicarakan hal ini, saya teringat kata-kata Imam Syafi'i, seorang cendekiawan Muslim. Beliau berkata, "Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan". Karena belajar adalah suatu proses yang panjang dan melelahkan, setiap individu yang belajar harus menyadari bahwa rasa bosan dan hambatan adalah hal yang wajar dalam proses pendidikan dan menuntut ilmu.

Pendidikan merupakan proses yang penuh tantangan. Menurut Aristoteles dan Imam Syafi'i, keberhasilan dalam pendidikan tidak bisa terhindarkan dari hambatan dan ujian. Namun, bagi mereka yang berhasil melewatinya, mereka akan mendapatkan hasil yang manis. Mereka akan terhindar dari kesulitan dan kesalahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Buah Manis: Hasil Transformasional

Saya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan kita belajar dan bersekolah. Saat kecil dulu, orang tua selalu mengatakan bahwa mengenyam pendidikan yang baik akan membuat kita pintar dan nantinya "bisa menjadi orang-orang yang sukses". Ini membuat orang tua dan keluarga bangga.

Dalam kebudayaan Indonesia, persoalan pendidikan dan persekolahan masih sering dianggap terkait dengan pencarian pekerjaan. Banyak orang berpikir bahwa jika seseorang memiliki pendidikan tinggi, maka mereka akan lebih mudah menemukan pekerjaan yang sesuai. Pekerjaannya akan nyaman, mudah, dan gajinya tinggi.

Pikiran seperti itu terasa kurang tepat, meskipun tidak sepenuhnya salah. Banyaknya lulusan universitas yang mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan adalah fenomena sosial yang nyata. Pada saat ini, banyak sarjana yang tidak dapat diterima dalam dunia kerja karena lapangan pekerjaan yang terbatas. Tidak mengherankan jika beberapa waktu lalu, topik #IndonesiaGelap menjadi tren di media sosial, karena generasi muda merasa bahwa negara ini semakin hari semakin sulit dalam hal mencari pekerjaan.

Tapi jika kita pandang lebih dalam lagi, masalah tentang kepentingan belajar, pendidikan, dan sekolah itu tidak hanya berujung pada mencari pekerjaan. Bahwa pada akhirnya, orang yang berpendidikan tinggi tentu akan lebih banyak peluang untuk mencari penghidupan dan pekerjaan. Namun, pendidikan sebenarnya memiliki tujuan mulia yang melampaui itu semua.

Pendidikan membantu manusia melihat dunia dari berbagai sudut pandang, membuat keputusan yang berdasarkan logika, dan berkontribusi pada masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia. Membuat mereka lebih berguna bagi kehidupan. Kualitas manusia yang unggul hanya dapat dicapai melalui proses pendidikan yang panjang dan menyeluruh. Hasil transformasi akan optimal jika negara berhasil menyajikan sistem pendidikan yang berkualitas. Dimana lembaga pelaksana visi pendidikan itu beroperasi dengan baik dan benar.

Manusia yang terdidik dapat melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas dan beragam. Dengan demikian, ia mampu menemukan berbagai solusi atas situasi dan kondisi dalam dinamika kehidupannya. Akar pahit dari proses pendidikan panjang nan melelahkan akan menghasilkan buah manis, yaitu manusia-manusia dengan kualitas SDM unggul.

Paradoks yang Abadi

Pendidikan modern masih memerlukan kesabaran dalam menanti hasil. Secara sederhana, istilah kesabaran terlambat dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menunda kebahagiaan sekarang demi mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar di masa depan.

Ambil contoh saja, meskipun di Indonesia disebutkan bahwa pendidikan dasar dan menengah gratis bagi masyarakat, namun bukan berarti akses ke pendidikan menjadi murah. Masih ada banyak biaya tambahan yang harus dibayarkan oleh masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang lebih baik. Sekolah yang hanya menyediakan pelayanan minimum tentu berbeda dengan sekolah yang memberikan pelayanan prima. Jika ingin mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas di sekolah yang dipercaya, masyarakat harus membayar tambahan biaya tertentu.

Pengorbanan seperti itu adalah salah satu cara menunda kesenangan untuk masa depan yang lebih baik. Bagaimana seseorang harus mengorbankan biaya, waktu, tenaga, dan pikiran dalam menjalani proses pendidikan adalah hal yang tidak dapat dihindari.

Seperti pohon yang menghasilkan buah setelah masa yang lama, pendidikan mengajarkan bahwa hasil terbaik selalu muncul melalui proses yang berlanjut. Aristoteles mengingatkan kita bahwa rasa pahit dalam proses pembelajaran bukanlah penghalang, melainkan tanda kecenderungan tumbuhnya intelektualitas yang autentik. Proses semacam ini seharusnya dipahami oleh semua pelaku pendidikan. Bahwa untuk mencapai keberhasilan tidak dapat diperoleh melalui sesuatu yang instan.

Semoga kita selalu menjadi manusia yang terpelajar. Tidak pernah lelah untuk belajar dan terus belajar demi kehidupan yang lebih baik. Karena sebenarnya belajar dan berpendidikan merupakan kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Teruslah semangat. Salam dari blogger persahabatan.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag: