"Saya dapat menyimpan semua kenangan di akun Google Drive saya masing-masing. Kalau membentuk album fisik biasanya lalu hilang," kata Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi menyoroti pula program wisuda yang sudah sering dilakukan di sekolah.
Program ini banyak digunakan di sekolah dasar dan menengah.
Menurutnya, acara wisuda seharusnya lebih sesuai untuk lulusan perguruan tinggi, seperti sarjana atau diploma.
"Saya melarang sekolah melangsungkan upacara wisuda untuk tingkat TK, SD, dan SMP. Bagi saya, upacara wisuda lebih sesuai untuk S1 atau D3. Lebih baik kelulusan diselenggarakan dengan sederhana di sekolah, seperti dulu," katanya.
Sebagai alternatif, Dedi merencanakan pembangunan gedung pertunjukan di sekolah untuk mengadakan berbagai kegiatan dengan lebih efektif dan tidak membebankan orang tua.
"Akan kami bangun ruang pertunjukan di setiap sekolah secara bertahap. Ruang itu dapat digunakan untuk acara kelulusan, pertunjukan tari, musik, atau menonton film berkualitas," jelasnya.
Menurut Dedi, langkah ini tidak hanya mengurangi beban biaya orang tua, tetapi juga memberikan fasilitas yang dapat digunakan oleh siswa dalam berbagai kegiatan akademik dan non-akademik.
"Kegiatan belajar tetap berjalan lancar, tanpa harus memberatkan orang tua dengan biaya tambahan. Yang terpenting, pendidikan tetap berkualitas dan anak-anak tetap bisa mengingat kenangan masa sekolah mereka dengan baik," pungkasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Dedi Mulyadi Kaget Siswa Bayar Rp 450 Ribu untuk Buku Kenangan di Sekolah, Sekarang Beliau Larang Siswa Wisuda
Editor : Pimred Laksamana.id
