"Anak itu kembali ke kamarnya. Ayah menyesal karena sikapnya, lalu mendekatinya. Anak itu sedang menangis sambil menahan uang Rp 40.000,-. Ayah mengusap kepala anaknya.
Maafkan aku. Kenapa kamu meminta uang di tengah malam seperti ini?
Aku tidak meminta uang dari kamu. Aku meminjam. Nanti aku akan mengembalikannya dengan uang yang aku dapat dari jualan aku.
"Iya tapi buat apa?" tanya ayahnya, yang tidak tahu apa maksud anaknya.
Saya sedang menunggu ayah pulang untuk mengajak ayah bermain, hanya satu jam saja. Ibu mengatakan bahwa waktu ayah sangat berharga, jadi saya ingin membeli waktu ayah. Saya buka dompet saya, ternyata ada uang Rp 40.000. Karena tidak cukup, saya meminjam Rp 10.000 dari ayah.
Setelah mendengar permintaan anaknya, ayahnya terdiam dalam diam, terenyuh, dan menangis. Ia menggenggam anaknya dengan air mata yang mengalir dan meminta maaf.
Kisah di atas mengingatkan kita, terutama mereka yang sangat sibuk di kantor, jangan sampai melupakan kebutuhan anak-anak untuk bermain bersama kita.
Cerita di atas juga relevan dengan konsep populer saat ini, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, atau sering disebut sebagai work life balance.
Semakin lama orang berada di tempat kerja, muncul kekhawatiran bahwa waktu yang tidak seimbang ini dapat merusak kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.
Ketika ini tulisan ini ditulis dan dipublikasikan, hari Minggu telah tiba, yang merupakan hari libur bagi banyak orang di Indonesia dan di banyak tempat lain di dunia.
Editor : Pimred Laksamana.id
