Scroll untuk baca artikel

Cerita di Balik Lukisan "Siti Maryam", Hadiah Megawati untuk Paus Fransiskus

Cerita di Balik Lukisan "Siti Maryam", Hadiah Megawati untuk Paus Fransiskus
Cerita di Balik Lukisan "Siti Maryam", Hadiah Megawati untuk Paus Fransiskus

Karena Megawati meminta lukisan itu memiliki nuansa Jawa, maka Sigit menggabungkan kerudung itu dengan kebaya kutu baru, busana tradisional yang biasa dipakai oleh wanita Jawa pada masa lalu.

Saya ingin menampilkan masalah-masalah yang berkaitan dengan Indonesia, jadi terlihatlah kombinasi antara warna merah dan putih (kerudung dan kebaya). Di mana orang Jawa menyebutnya 'gulo-klopo', kerudung putih merupakan simbol kesucian, dan baju merah adalah bagian dari ketegasan dan keberanian," kata Sigit.

Baca juga:

Menonjolkan cinta kasih

Di depan dada Bunda Maria, ditempatkanlah sebuah simbol hati yang suci, yang juga merupakan lambang cinta, walaupun telah terluka.

Hal yang menarik dari lukisan ini adalah perubahan motif kain jarik yang berlalu.

Awalnya, Sigit memilihkan motif parang. Namun, Megawati tidak ingin sesuatu yang terlalu menggambarkan perlawanan atau perang, seperti yang ditampilkan oleh motif parang.

Motif jarik pun diubah menjadi corak kontemporer yang melambangkan cinta dan kasih, yang melindungi dan tumbuh secara tidak henti-hentinya.

Mengenai pilihan lukisan Ibu Megawati, Sigit mengatakan, 'Ibu Megawati memilih lukisan yang menggambarkan tentang cinta kasih.'

Jadi selain mengganti corak jarik, Sigit juga mengganti siluet ular di bawah kaki Bunda Maria menjadi bunga melati.

Bunga melati melambangkan cinta yang lebih kuat daripada tanduk ular yang melambangkan keberanian melawan kebatilan.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Pengobatan
Terkini