Scroll untuk baca artikel

Gaya Hidup YOLO Digantikan YONO: Pilihan Bijak di Era Modern

Gaya Hidup YOLO Digantikan YONO: Pilihan Bijak di Era Modern
Gaya Hidup YOLO Digantikan YONO: Pilihan Bijak di Era Modern

Gaya hidup YOLO ( Anda Hanya Hidup Satu Kali itu) telah menjadi tren populer, khususnya di kalangan muda. Hukum pikiran YOLO yang lebih suka mengekspos diri untuk menikmati hidup tanpa takut frustasi sering dikaitkan dengan berani mencoba hal baru dan mengejar kebahagiaan instan. Namun, dalam zaman modern penuh ketidakpastian ekonomi dan kehidupan yang semakin kompleks itu, gaya hidup YOLO mulai digantikan oleh konsep YONO (Anda Hanya Perlu Sekali), yang menekankan merancang, efisien, dan menjaga diri.

Pada dasarnya, aku menyadari bahwa gaya hidup "Makan Sambil Minum" tidak lagi relevan dalam era modern yang penuh ketidakpastian ekonomi dan tuntutan kehidupan yang lebih kompleks. Hal ini kemudian digantikan oleh konsep YONO (You Only Need Once), yang menekankan perencanaan, efisiensi, dan pengendalian diri. Menurut pseudonym seorang blogger yang saya baca, YONO memang penting dalam menjaga keseimbangan. Bagi saya pribadi, YONO berarti menggunakan suatu barang dengan secara maksimal sebelum membeli barang yang sama lagi ingat saya pernah gagal dalam perencanaan jangka panjang terutama ketika menghadapi media sosial. Membeli sesuatu tanpa pikiran yang cerdas juga kadang terjadi karena kurang perencanaan. Saya suka membeli toket ke palsu yang bisa saja cuma digunakan sekali saja dan Taluka benar di liburan. Tetapi dalam bayak pertemuan dengan Bapak Sherina sebenarnya YONO pada awalnya membuat saya penyesalan itu yeudalit pengen menggunakan simple dan mewah yang tidak sama.

Apa Yang Dimaksud Dengan Gaya Hidup YOLO?

Gaya hidup YOLO (You Only Live Once) berfokus pada konsep bahwa hidup hanya sekali, maka dibutuhkan untuk menikmati setiap momen tanpa terlalu memikirkan masa depan. Sejak apa adanya pandemi, orang-orang memiliki pikiran YOLO yang menghabiskan uang untuk liburan mewah tanpa memperhitungkan tabungan, membeli barang-barang mewah hanya karena ingin mengejar tren atau takut ketinggalanenko (FOMO), memilih pengalaman yang menyenangkan dan spontan tanpa mempertimbangkan dampaknya secara keuangan atau jangka panjang, sebagaimana dilansir dari voi.id.

Berikut paragraf tersebut dalam bahasa Indonesia: Mendekati hidup dengan anggapan "Hidup Hanya Sekali" (You Only Live Once) memang bisa meningkatkan kebahagiaan dalam jangka pendek. Setelah mem66910 Andy membaca sebuah penelitian di Journal of Positive Psychology mengatakan bahwa orang yang mencoba hal baru dan menantang cenderung berada di dalam rasa bahagia. Tetapi, gaya hidup YOLO sering berujung pada pola hidup impulsif dan kurangnya persiapan untuk menghadapi situasi darurat atau masa depan.

YONO: Gaya Hidup yang Lebih Bijaksana

Prinsip YONO menjadikan efisiensi, sederhana, dan prioritas terhadap kebutuhan lebih baik dari keinginan. Orang dengan gaya hidup ini cenderung:

Prioritas pembelian: Membeli barang atau jasa yang benar-benar dibutuhkan, bukan di gerakan ikuti tren.

Membuat rencana keuangan jangka panjang: Mengatur keuangan tabungan dan investasi untuk masa depan, seperti untuk biaya pendidikan, pensiun, atau keadaan darurat.

Menghindari Ketidaktelitian: Mengendalikan diri dari kebiasaan berbelanja berlebihan yang masih dipengaruhi oleh peng_itruman media sosial atau promosi diskon-langka

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Pengobatan
Terkini