"Bagaimana jika kita berbeda agama, tapi tetap saling menghargai dan mencintai sesama warga negara? Ini adalah landasan yang akan digunakan untuk Kurikulum Cinta," kata Nasaruddin.
Dia mengemukakan pula bahwa Kurikulum Cinta ini akan berguna dalam 'membasmi' potensi hubungan penindasan kuasa dalam masyarakat. Hubungan penindasan ini berkaitan dengan kesetaraan gender antara pria dan wanita.
"Sekarang, marilah kita menyusun kurikulum yang (tidak) akan melemahkan perempuan dan memihak laki-laki, karena kita sama-sama khalifah. Oleh karena itu, perbedaan dalam Kurikulum Cinta harus dihilangkan karena itu nanti akan menyebabkan hubungan kekuasaan yang tidak adil. Semakin kuat posisi laki-laki di masyarakat, semakin mudah terjadinya pelecehan terhadap perempuan," kata Nasaruddin.
Editor : Pimred Laksamana.id
