Scroll untuk baca artikel

Dosen IKTA Kaji Persepsi Ayah Perokok Aktif terhadap Perlindungan Kesehatan Balita di Desa Lubuk Siam

Dosen IKTA Kaji Persepsi Ayah Perokok Aktif terhadap Perlindungan Kesehatan Balita di Desa Lubuk Siam
Dosen IKTA Kaji Persepsi Ayah Perokok Aktif terhadap Perlindungan Kesehatan Balita di Desa Lubuk Siam

PEKANBARU – Tim peneliti Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan, Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA), mengkaji persepsi ayah perokok aktif terhadap risiko kesehatan keluarga dan upaya perlindungan balita melalui pendekatan Health Belief Model (HBM). Penelitian yang berlokasi di Desa Lubuk Siam ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan keluarga, terutama dalam mendorong terciptanya lingkungan rumah bebas asap rokok dan mendukung kesehatan balita.

Penelitian bertajuk “Health Belief Model pada Ayah Perokok Aktif terhadap Permasalahan yang Mengarah pada Status Gizi Balita di Desa Lubuk Siam” tersebut diketuai oleh Rika Mianna, M.Kes., bersama anggota tim Eva Mayasari, M.Kes., Riska Epina Hayu, MPH, dan mahasiswa Wilker Helary. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mengenai keyakinan, persepsi risiko, serta faktor-faktor yang dapat memengaruhi perilaku ayah perokok aktif dalam melindungi kesehatan anggota keluarga, khususnya anak balita.

Urgensi penelitian ini didukung oleh hasil survei awal terhadap 100 kepala keluarga di Dusun 2, Desa Lubuk Siam. Dari survei tersebut, sebanyak 74 responden atau 74 persen diketahui merupakan perokok aktif. Temuan awal ini menjadi salah satu landasan bagi tim peneliti untuk mengkaji lebih lanjut bagaimana ayah memandang risiko kesehatan, manfaat perubahan perilaku, dan langkah perlindungan bagi anak di lingkungan rumah tangga.

Dalam pelaksanaannya, penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data utama melibatkan 35 ayah perokok aktif di Desa Lubuk Siam pada 13–15 Juli 2025. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah melalui pengujian validitas pada 2 Juli 2025. Penelitian tersebut berlanjut ke tahap kedua pada 2026.

Tim peneliti menggunakan enam komponen Health Belief Model untuk memahami persepsi responden, yakni persepsi kerentanan terhadap risiko kesehatan (perceived susceptibility), persepsi keparahan dampak (perceived severity), persepsi manfaat perubahan perilaku (perceived benefits), persepsi hambatan (perceived barriers), isyarat untuk bertindak (cues to action), serta keyakinan terhadap kemampuan diri (self-efficacy).

Hasil pengolahan data deskriptif terhadap 35 responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada dalam kategori positif pada keenam komponen tersebut. Pada aspek persepsi kerentanan, sebanyak 20 responden atau 57,1 persen masuk kategori positif. Pada persepsi keparahan, terdapat 21 responden atau 60 persen, sedangkan persepsi manfaat tercatat pada 24 responden atau 68,6 persen.

Sementara itu, pada komponen persepsi hambatan, sebanyak 18 responden atau 51,4 persen berada dalam kategori positif. Pada aspek isyarat untuk bertindak, jumlahnya mencapai 23 responden atau 65,7 persen. Adapun pada komponen keyakinan terhadap kemampuan diri, sebanyak 22 responden atau 62,9 persen berada dalam kategori positif.

Temuan tersebut memberikan gambaran awal mengenai persepsi ayah perokok aktif terhadap risiko kesehatan dan kemungkinan perubahan perilaku dalam keluarga. Namun, hasil deskriptif ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara komponen Health Belief Model dan status gizi balita. Kesimpulan mengenai hubungan tersebut masih memerlukan analisis lanjutan sesuai dengan tujuan penelitian.

Melalui penelitian ini, tim IKTA menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam melindungi kesehatan balita. Ayah sebagai salah satu pengambil keputusan dalam rumah tangga memiliki peran dalam mendukung penerapan perilaku hidup sehat, termasuk menghindari paparan asap rokok di dalam rumah. Edukasi kesehatan kepada orang tua juga diperlukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai risiko paparan asap rokok serta pentingnya pemenuhan kebutuhan kesehatan dan gizi anak.

Pendekatan Health Belief Model diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan merancang program edukasi yang lebih sesuai dengan persepsi, keyakinan, dan hambatan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, promosi kesehatan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga mendorong keluarga mengambil langkah nyata untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang balita.

Editor : Yanto
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Pengobatan
Terkini