PEKANBARU — Perkembangan teknologi dan transformasi digital membawa perubahan dalam berbagai aspek pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kebidanan. Menjawab tantangan tersebut, Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA) membekali mahasiswa kebidanan dengan wawasan mengenai inovasi, teknologi, dan penerapan evidence based practice melalui kegiatan Kuliah Pakar.
Kegiatan bertema “Empowering Future Midwives: Inovasi, Teknologi dan Evidence Based Practice dalam Transformasi Pelayanan Kebidanan Menuju Indonesia Emas 2045” tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor IKTA, Assoc. Prof. Dr. Ns. Hj. Rifa Yanti, S.Kep., M.Biomed., FISQua. Kegiatan diikuti oleh 110 mahasiswa Program Studi Kebidanan IKTA yang antusias mengikuti pembelajaran dan pemaparan materi dari narasumber.
Kuliah Pakar menghadirkan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (PP IBI), Dr. Ade Jubaedah, S.Keb., Bdn., MM.MKM, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kemampuan calon bidan dalam mengikuti perkembangan teknologi dan menerapkan praktik pelayanan yang berbasis bukti ilmiah.
Pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan, menurutnya, perlu diiringi dengan peningkatan kompetensi dan kemampuan berpikir kritis. Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan yang berkualitas, aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Transformasi digital bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, calon bidan harus memiliki kemampuan untuk terus belajar, berpikir kritis, dan memastikan setiap tindakan yang dilakukan berdasarkan bukti ilmiah,” ujar Dr. Ade Jubaedah dalam pemaparannya.
Ia juga memberikan motivasi kepada mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu melihat perkembangan teknologi sebagai peluang untuk melakukan inovasi dalam pelayanan kebidanan.“Bidan masa depan harus adaptif dan inovatif. Perubahan akan terus terjadi, sehingga mahasiswa kebidanan sejak sekarang harus mempersiapkan diri dengan kompetensi, pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman,” tambahnya.
Mahasiswa kebidanan tidak hanya dituntut menguasai kompetensi klinis, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan berinovasi, berpikir kritis, serta memanfaatkan teknologi secara tepat menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan profesi kebidanan ke depan.
Salah seorang peserta Kuliah Pakar menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pentingnya kesiapan mahasiswa kebidanan menghadapi perkembangan teknologi dalam dunia pelayanan kesehatan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai mahasiswa kebidanan. Kami jadi lebih memahami bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dipisahkan dari pelayanan kebidanan. Selain kemampuan klinis, kami juga perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkap salah seorang peserta.
Editor : Pimred Laksamana.id
