Di titik tersebut, muncul kesimpulan baru.
Andono ternyata bukan Tim Bubur Diaduk. Bukan pula Tim Bubur Tidak Diaduk.
Ia adalah Tim Bubur Terjual.
Sebab bagi penjual, perdebatan filosofis soal bubur pada akhirnya bermuara pada satu hal: dagangan harus laku.
Ketika Sendok Hampir Menjadi Alat Diplomasi
Perdebatan pun semakin memanas.“Kalau makan bubur tidak diaduk, rasanya tidak menyatu!”
“Kalau diaduk, tampilannya jadi berantakan!”
“Yang penting rasa!”
“Yang penting estetika!”
Editor : Pimred Laksamana.id
