Konflik pun diperkenalkan. Bukan politik, bukan sepak bola, bukan pula harga cabai. Melainkan bubur.
“Ada konflik yang sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan mungkin lebih lama daripada hubungan kita dengan mantan,” menjadi kalimat pembuka yang mengundang tawa.
Di satu sisi, kelompok bubur diaduk meyakini semua rasa harus menyatu. Di sisi lain, kelompok bubur tidak diaduk menganggap setiap unsur dalam mangkuk memiliki tempat masing-masing.
Reporter Fahri kemudian turun langsung ke warung bubur.
“Di sebelah kanan saya ada kelompok Bubur Diaduk. Dan di sebelah kiri saya ada kelompok Bubur Tidak Diaduk,” ujarnya.
Muklis menilai bubur harus diaduk agar rasanya merata.
“Kalau tidak diaduk, rasanya tidak merata. Ayam di atas, bubur di bawah. Kecap di pojok, kuah di tengah. Itu bukan bubur, Bang. Itu peta wilayah.”Sementara Andi S. Panjaitan memiliki pandangan berbeda.
“Pertama ayam. Kemudian kuah. Kemudian bubur. Kemudian kerupuk. Semua punya tempat.”
Ketika ditanya apakah rasa tidak menjadi kurang merata, jawabannya justru melebar ke persoalan kehidupan.
Editor : Pimred Laksamana.id
