“Kami tetap menjalankan proses hukum sesuai aturan yang berlaku, namun dengan tetap mengedepankan rasa keadilan tanpa mengesampingkan kepastian hukum,” lanjutnya.
Perkara yang menimpa Mbah Mujiran menjadi pengingat bahwa di balik setiap proses hukum, ada kehidupan manusia yang ikut terdampak. Ada keluarga yang menunggu, ada harapan yang ingin dipulihkan, dan ada masa depan yang masih ingin diperjuangkan.
Apa yang dilakukan Kejari Lampung Selatan hari ini menunjukkan bahwa hukum tidak selalu harus hadir dengan wajah yang keras. Di tengah penegakan aturan, masih ada ruang untuk empati, hati nurani, dan kemanusiaan.
Kini, Mbah Mujiran bisa kembali menikmati sore bersama keluarganya. Duduk sederhana di rumah, mendengar suara cucu-cucunya bercanda, serta merasakan kembali hangatnya kehidupan yang sempat terasa jauh.Dan hari itu, udara segar bukan hanya dirasakan oleh Mbah Mujiran. Tetapi juga menjadi harapan bahwa keadilan yang humanis masih hidup di tengah masyarakat.
Editor : Yanto
