"Karena Epy lagi syuting, jadi aku saja yang menjualnya," ujar Karina.
Tentu saja, Karina tidak mengelola bisnisnya sendiri, ia dibantu oleh empat orang pegawai yang menjual lebih dari 10 jenis makanan ringan yang berbeda. Di antaranya ada kolak, gorengan, piscok, dan berbagai jenis kue.
Karina mengatakan bahwa menjual takjil selama Ramadan sudah menjadi kebiasaan mereka bersama Epy selama 10 tahun. Hal ini seperti sudah menjadi tradisi yang tak pernah dilupakan.
"Umumnya dagang makanan berat, tapi kalau saat puasa seperti ini jarang yang membeli. Lihatlah antusiasnya berburu takjil, akhirnya jualan takjil," jelas Karina.
Untuk memudahkan transaksi jual belinya, Karina menciptakan inovasi QRIS yang dipasang di kepalanya sebagai bando.
"Agar orang lebih mudah untuk membayar. Menurut Kang Epy, kalau di baju, kata 'bando' kurang sopan. Akhirnya bentuk bando seperti ini," jelasnya.
Lebih lanjut, omzet penjualan takjil dapat mencapai Rp 10 hingga 15 juta setiap harinya.
"Hari pertama bisa mencapai Rp 10 hingga Rp 15 juta, setelahnya naik turun, tapi Alhamdulillah, kami syukuri saja," katanya.
Saat ini, kegiatan menjual makanan ringan di bulan Ramadan sangat mendapatkan sambutan yang sangat positif, sehingga membawa keuntungan bagi Epy Kusnandar dan Karina Ranau.
(*)
Editor : Pimred Laksamana.id
