Scroll untuk baca artikel

Menyambangi Masjid Sultan Singapura yang Berusia 200 Tahun

Menyambangi Masjid Sultan Singapura yang Berusia 200 Tahun
Menyambangi Masjid Sultan Singapura yang Berusia 200 Tahun

Kunjungan Wisata ke Masjid

Berkunjung ke Masjid Sultan sebelum Ramadan dimulai, banyak turis yang datang ke masjid. Setelah melepas alas kaki, para pengunjung bisa masuk hanya sebatas ke teras dalam masjid. Tetapi sebelumnya, bagi pengunjung yang berpakaian agak pendek diwajibkan mengenakan sarung atau rok panjang. Mereka bisa bebas berfoto dan menanyakan segala sesuatu tentang masjid dan Islam.

Menurut Danial, jumlah pengunjung setiap hari bisa mencapai 500-600 orang, sedangkan pada akhir pekan bisa mencapai 700-800 orang. Mereka datang dari berbagai negara seperti Jepang, Korea, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Eropa. Danial juga mengatakan banyak dari mereka bertanya tentang perbedaan antara Syiah-Sunni dan agama yang diikuti oleh masjid ini.

Saya baru bekerja selama tiga pekan.

“Kita melihat Islam bukan hanya sebagai agama, tapi sebagai cara hidup yang menarik, ajarannya dan cara mengajarkannya,” kata Maria dan Haruka. Mereka dua orang pekerja yang tinggal di Fukuoka, Jepang.

Najwa, seorang Jepang, menjelaskan papan yang berisi tulisan Arab dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris di dekat pintu. Tulisan itu berisi bacaan azan dan Surah Al-Fatihah Al-Quran. Maria dan Haruka tampak sibuk dan kagum dengan penjelasan Najwa.

Tahun ini adalah kesempatan bagi saya untuk meningkatkan keimanan saya, baru sekarang saya bisa berpartisipasi.

Sejarah Masjid Sultan

Masjid ini dibangun pada tahun 1824 untuk Sultan Hussein Shah, sultan pertama di Singapura. Sir Stamford Raffles, pendiri Singapura, menyumbang $3.000 untuk pembangunan bangunan satu lantai dengan atap dua lapis.

Seabad kemudian, masjid ini direnovasi. Masjid yang sekarang ini didesain oleh Denis Santry dari perusahaan arsitektur Swan and Maclaren, sebuah perusahaan arsitektur tertua di Singapura. Masjid ini dibangun kembali pada tahun 1932. Pada masa rekonstruksi Jalan North Bridge dibelokkan mengitari masjid dan diperpanjang hingga Jalan Arab.

Bangunan masjid ini berbentuk seperti bawang. Setiap jemaah baik yang kaya maupun yang miskin bisa berkontribusi saat pembangunannya. Setiap dasar kubah dihiasi dengan ujung botol kaca yang disumbangkan oleh umat Muslim yang kurang mampu di masa pembangunannya.

Masjid ini juga diakui sebagai monumen nasional pada tahun 1975 dan menjadi salah satu pusat utama masyarakat Muslim di Singapura. Saat ini, tidak kurang dari 69 masjid berdiri di Singapura sebagai pusat-pusat ibadah umat Muslim di sana.

Editor : Pimred Laksamana.id
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Pengobatan
Terkini