Menurut Pak Asep, buku dan foto kenangan siswa sehari-hari dapat disimpan dalam media digital, bukan perlu dicetak.
Hal itu dapat mengurangi biaya pembuatan.
Dedi setuju dengan hal itu, sehingga dia meminta siswa untuk tidak lagi mencetak buku tahunan dan menggantinya dengan media penyimpanan digital.
"Bisakah album kenangan itu mahal?" tanya Kang Dedi.
"Biaya yang kami tawarkan dari Rp150 ribu sampai Rp450 ribu per anak. Karena kami memiliki kelas dan angkatan yang terpisah," kata Asep.
"Setiap anak punya album kenangan dengan harga sekitar Rp150 ribu hingga Rp450 ribu, ya sangat sulit untuk memilikinya," kata Kang Dedi.
"Dan yang mengelola mereka, sekolah sama sekali tidak terlibat," pungkas Asep.
"Jadi anak-anak membuat album kenangan, yang sebenarnya dapat disimpan dalam bentuk digital," jelas Dedi.
Asep mengatakan Rp 20 ribu sudah cukup untuk digital.
Editor : Pimred Laksamana.id
