Kang Dedi lebih menyarankan untuk mengganti upacara wisuda dengan menggelar acara kesenian untuk menyambut kelulusan siswa TK hingga SMP.
Pada masa depan, Bapak Dedi akan menyiapkan anggaran untuk pembangunan gedung multifungsi di semua sekolah di Jawa Barat.
"Kemungkinan lulusan tidak hanya di sekolah ini saja, misalnya di sekolah itu sendiri sudah ada lulusannya, seperti zaman dahulu kita, kita pernah sekolah. Lulusannya dibuat di sekolah, jika perlu kemudian pemerintah Provinsi membangun ruang pertunjukan di setiap sekolah, dengan kapasitas 1000 orang, kemudian secara bertahap kita bangunkan," kata Kang Dedi.
Bangunan serba guna tersebut, menurut Dedi, juga bisa digunakan untuk pertunjukkan di luar acara kelulusan siswa.
Misalnya, untuk acara tari sekolah, konser musik, menonton film berkualitas bersama murid, dan kegiatan positif lainnya.
Buku kenangan sekolah
Kedua, hal yang menarik perhatian Kang Dedi adalah tentang aksi para siswa yang mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku kenangan, yaitu Buku Tahunan.
Kang Dedi sangat senang ketika mengetahui bahwa buku tahunan siswa yang telah menjadi tradisi selama bertahun-tahun akan tetap ada.
"Jadi album kenangan itu juga cukup mahal. Kami para guru telah mengusulkan, yang tadinya barang cetakan (foto) diganti dengan digital. Harga album kenangan itu berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp450 ribu," kata Asep Mulyana.
"Oh, anak-anak punya album kenangan? Ah, aku menyimpan semua kenangan Ni Hyang di akun saya, bukan di album karena album suka hilang. Oh, itu yang diliput itu album kenangan, aku baru tahu," kata Kang Dedi.
Editor : Pimred Laksamana.id
