Scroll untuk baca artikel

Tanjakan Haliyan Ghubok: Medan Pertarungan Antara Si Optimis VS Si Pesimis

Tanjakan Haliyan Ghubok: Medan Pertarungan Antara Si Optimis VS Si Pesimis
Tanjakan Haliyan Ghubok: Medan Pertarungan Antara Si Optimis VS Si Pesimis

Dan lihatlah hasilnya: Tanjakan Haliyan Ghubok kini nyaris rampung (99%). Tidak ada papan proyek, tidak ada nama kontraktor, tidak ada foto pejabat tersenyum dengan gunting pita. Yang ada hanyalah rabat beton sederhana—lahir dari doa dan tekad warga yang memilih optimisme, walau dicemooh si pesimisme.

“Kik khanglaya ji di lewati Mobil nyak aga lapah Jurak, kalau jalan ini bisa di lewati mobil saya mau jalan terbalik!” kata seorang pesimis.

“Potong kuping saya kalau pekon Sukarami bisa ditembus kendaraan!” seru yang lain.

“Sampai ke adek-adekmu….., membangun jalan secara swadaya nggak kalau mudah” kata dia yang mengaku pejabat.

Awalnya ucapan itu menyakitkan. Lama-lama justru jadi bahan tertawaan. Biarlah mereka memanggul kata-kata, kami memanggul batu. Biarlah mereka menabur sinis, kami menabur kerja. Sejarah sudah berulang kali membuktikan: yang dicatat bukan suara nyinyir, melainkan keringat yang menetes di tanah.

Setiap meter jalan yang terbentang adalah doa untuk si optimis dan sekaligus teguran bagi si pesimis—terutama yang duduk di kursi empuk, rajin memotret rapat, tapi lupa memotret solusi.

Editor : Yanto
Bagikan

Berita Terkait
Terkini