Laksamana.id | Lampung Barat -
Ada tanjakan yang tidak hanya menanjak tanah, tapi juga menanjak batin: Tanjakan Haliyan Ghubok. Di sanalah hidup menguji kita dengan pertanyaan sederhana namun dalam: apakah kita memilih menjadi si optimis yang berkeringat atau si pesimis yang berisik?
Bagi anak-anak, ia adalah jalan menuju sekolah; bagi petani, jalan menuju ladang; bagi orang sakit, jalan menuju rumah sakit. Tetapi bagi kami, ia lebih dari sekadar jalan. Ia adalah kitab terbuka, halaman demi halaman yang ditulis dengan cangkul, sekop, dan keringat.Kami memang sanak daghak, anak kebun, anak umbul—julukan yang kerap dilontarkan dengan nada merendahkan. Tapi kami tidak pernah merasa hina. Sebab harga diri tidak tumbuh dari seragam atau jabatan, melainkan dari keberanian menghadapi jalan curam dengan bahu sendiri.
Kami tahu, menunggu negara hadir di tanjakan ini sama saja menunggu hujan di kemarau panjang. Janji yang ditabur hanya sebentar jadi mendung, lalu hilang ditiup angin. Proposal hanyalah kertas kusam yang tertinggal di meja staf. Sementara rakyat dipanggil ke upacara, dikirimi spanduk bendera, diberi pidato tentang kemajuan, tetapi tidak diberi jalan yang bisa dilewati.
Karena itulah kami berhenti menunggu. Kami bekerja. Dengan baju lusuh yang menjadi seragam kebesaran kami. Dengan cangkul yang lebih jujur daripada semua baliho. Dengan sekop yang lebih setia daripada janji-janji. Kami tidak pernah memotong pita, tapi kami memotong keringat sendiri demi menambal jalan.
Editor : Yanto