Kolaborasi lintas generasi pun penting. Para seniman dan tokoh adat Lampung dapat menjadi sumber inspirasi, sementara anak muda menjadi penggerak dengan kreativitasnya. Dari pertemuan itu akan lahir energi baru: tradisi yang terjaga, sekaligus inovasi yang relevan dengan zaman.
Kunci utamanya adalah kesadaran. Generasi muda Lampung harus menyadari bahwa bahasa ibu adalah warisan sekaligus energi. Menjaganya bukan sekadar pilihan, tetapi tanggung jawab sejarah. Di tangan generasi mudalah bahasa Lampung akan terus bernapas dan berkembang. Mereka bukan hanya pewaris, tetapi juga penjaga dan pengembang bahasa yang menjadi jantung kebudayaan.
Momentum Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober adalah saat yang tepat untuk meneguhkan komitmen ini. Apa yang dilakukan hari ini, mengajarkan, menuturkan, dan menghidupkan bahasa Lampung, akan menjadi jejak sejarah bahwa kita adalah bangsa beradab dan berbudaya.(Saka Ard)
Editor : Yanto