Generasi muda Lampung harus menyadari bahwa bahasa ibu adalah warisan sekaligus energi. Menjaganya bukan sekadar romantisme, tetapi sebuah strategi kebudayaan untuk menghadapi masa depan. Bangsa yang kehilangan bahasa ibunya akan kehilangan arah, sementara bangsa yang merawat budayanya akan dihargai di mata dunia.
Hari ini, saat kita memperingati momentum kebudayaan nasional, mari kita jadikan bahasa Lampung sebagai bagian dari kebanggaan. Dengan menghidupkannya di sekolah, kampus, dan media digital, kita sedang menuliskan jejak peradaban untuk generasi mendatang. Tugas ini memang berat, tetapi bukan tidak mungkin. Sebab, di tangan generasi mudalah bahasa Lampung akan terus bernapas.
Seperti kata Ki Hadjar Dewantara: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai budayanya sendiri.” Menghidupkan bahasa Lampung adalah bentuk penghargaan itu. Tugas ini bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan strategi menjaga jati diri di tengah arus globalisasi.
Di era digital, generasi muda justru memiliki peluang besar. Mahasiswa, pelajar, dan komunitas muda bisa menghidupkan bahasa Lampung lewat konten kreatif: video percakapan singkat, podcast, komik digital, hingga musik dengan lirik bahasa daerah. Bahasa Lampung tidak lagi dipandang kaku, melainkan segar, modern, dan gaul.Sekolah dan kampus dapat menjadi laboratorium bahasa. Guru dan dosen tidak cukup hanya mengajarkan teori, tetapi perlu mengajak siswa menulis puisi, membuat drama, atau berpidato dalam bahasa Lampung. Festival budaya mahasiswa bisa menjadi panggung apresiasi yang menumbuhkan kebanggaan kolektif.
Editor : Yanto