"Kami bakar rumah kamu seperti di Medan. Gara-gara kau, hidup kami susah sampai kami tidak bisa cari makan di Bumi Pertiwi ini. Kau pernah dengar rumah wartawan dibakar di Medan? Ku pegal lidah kau tu, kau super hati-hati saja ya!"
Tak hanya itu, beberapa hari kemudian, nomor yang sama mengganti foto profilnya dengan gambar seorang petinggi TNI. Entah apa maksudnya, tapi jelas ada pihak yang ingin mengaburkan jejak sekaligus menebar ketakutan.
Kasus ini membuktikan bahwa tambang ilegal bukan sekadar bisnis gelap biasa—ada kekuatan besar yang berusaha melindunginya! Upaya menekan media, membungkam kebenaran, dan mengancam nyawa jurnalis hanya menunjukkan bahwa ada oknum yang takut boroknya terbongkar.
Apakah hukum akan tetap tunduk pada mafia PETI? Ataukah masyarakat harus turun tangan sendiri untuk menegakkan keadilan?Satu hal yang pasti: kebebasan pers tidak bisa dibungkam, dan kebenaran akan terus diungkap!*** Tim.
Editor : Pimred Laksamana.id