1. Obat antiinflamasi (NSAID)
Dilansir dari Healthline (6/4/2023) Obat penahan rasa sakit yang bersifat antiradang dapat menyebabkan masalah pada organ ginjal bila dikonsumsi secara berkelanjutan untuk meredakan gejala nyeri dan pembengkakannya.
Obat anti-inflamasi ini mencakup aspirin, ibuprofen, serta naproxen. Penggunaannya harus dihindari untuk dikonsumsi setiap hari tanpa terlebih dahulu berdiskusi dengan profesional kesehatan.
2. Antibiotik
Obat seperti penisilin dan sefalosporin diminum untuk menghadapi infeksi yang dipicu oleh bakteria. Perlu memakai obat tersebut sesuai dengan anjuran dari dokter.
Namun, banyak pasien yang gagal menyelesaikan kursus antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Hal ini dapat menjadikan terapi infeksi kurang berhasil serta berpotensi memicu gangguan pada organ ginjal secara mendadak.
3. Penghambat Pompa Proton (PPI)
PPI adalah obat antasida yang membantu meminimalkan gangguan pada perut. Digunakan untuk menangani kondisi saluran pencernaan, termasuk luka pada lambung, GERD, serta infeksi bakteri. Helicobacter pylori . Sebagai contohnya adalah omeprazole serta lansoprazole.
Mengonsumsi obat-obatan untuk masalah perut dalam waktu lama dengan dosis besar secara berturutan dapat menambah peluang menderita gangguan pada organ ginjal.
4. Obat tekanan darah
Obat untuk menekan tekanan darah seperti penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dan blokiran penerima angiotensin II (ARB), dapat membantu mengontrol tekanan darah sambil juga memperkecil peluang terkena serangan stroki dan gangguan jantung serta pembuluh darah lainnya.
Obat ACEI yang sering ditemui di pasaran mencakup benazepril/lotensin, enalapril, serta lisinopril. Sedangkan untuk golongan obat ARB terdapat azilsartan, candesartan, dan irbesartan.
Pasien tekan darah tinggi yang sedang mendapatkan perawatan menggunakan obat-obatan itu dilarang untuk mengakhiri konsumsi tanpa anjuran dari dokter. Akan tetapi, obat-obatan ini bisa mempengaruhi fungsi ginjal.
Editor : Pimred Laksamana.id